Jember (beritajatim.com) – Perserikatan Muhammadiyah hingga saat ini memiliki 121 rumah sakit dan 173 perguruan tinggi, sembilan perguruan tinggi di antaranya dikelola organisasi perempuan Aisiyah. Selain itu, Muhammadiyah memiliki 363 klinik di seluruh Indonesia.
Setelah meresmikan Rumah Sakit Umum Universitas Muhammadiyah di Kabupaten Jember, Jawa Timur, rencananya Muhammadiyah akan membangun rumah sakit di Jayapura. “Ini sebagai rintisan membangun keehatan di bumi Papua,” kata Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir, dalam peresmian Rumah Sakit Umum Universitas Muhammadiyah di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (11/3/2023).
Menurut Haedar, rumah sakit, perguruan tinggi, dan lembaga-lembaga sosial sebenarnya pranata menyatukan bangsa. “Lewat rumah sakit semua orang bisa hadir bersama. Muhammadiyah dengan keterbatasan yang kita miliki bisa menghadirkan rumah sakit, sekolah, dan lembaga pendidikan yang lain. Itu sebenarnya menyatukan,” katanya.
Mayoritas mahasiswa perguruan tinggi dan siswa-siswa sekolah milik Muhammadiyah di Nusa Tenggara Timur dan Papua beragama non Islam. Muhammadiyah bisa diterima oleh masyarakat di dua wilayah tersebut.
“Sadar atau tidak, itu sebenarnya wujud dari membangun budaya dan sistem bhinneka tunggal ika lewat pranata sosial, pendidikan, dan kesehatan. Sehingga Muhammadiyah pun ikut memberi sumbangsih bagi integrasi nasional,” kata Haedar.
Menurut Haedar, pembangunan rumah sakit dan lembaga pendidikan oleh Muhammadiyah bukan semata-mata pembangunan fisik. “Tapi ada ruh di dalamnya, ada jiwa di dalamnya, ada state of mind di dalamnya. Ada fiqroh atau alam pikiran, yakni ingin menghadirkan dan membuktikan Islam sebagai dinul hadhoroh, Islam sebagai agama yang membangun peradaban maju. Itulah Islam berkemajuan,” katanya.
Baca Juga:
Muhammadiyah: Indonesia Butuh Persatuan Dewasa
Haedar menegaskan, Islam hadir unruk membangun peradaban dunia, bersambung dengan akhirat. “Peradaban itu harus di atas peradaban yang lain. Peradaban itu harus mencerahkan dan mencerdaskan peradaban yang lain,” katanya.
“Muhammadiyah bukan sekadar al harakah addiniyah semata-mata. Gerakan keagamaan semata-mata. Tapi juga gerakan yang membangun kehidupan atas nama diniyah (agama) itu. Maka aspek ibadah, akidah, akhlak, dan muammalah duniawiyah dalam pandangan Muhammadiyah adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan,” kata Haedar.
Baca Juga:
Rumah Sakit ke-121 Milik Muhammadiyah Diresmikan di Jember
Ketika Muhammadiyah membangun seluruh layanan sosial untuk gerakan kemanusiaan, menurut Haedar, lahir dari spirit Islam itu sendiri. “Dalam konteks itulah, Muhammadiyah tidak ada jalan lain mempraktikkan agama kecuali dengan amal,” katanya. [wir/but]






