Mojokerto (beritajatim.com) – Hari Lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama (NU) ke-101 mengusung tema ‘Memacu Kinerja, Mengawal Kemenangan’. Serangkaian acara untuk memperingati Harlah NU akan berlangsung pada tanggal 29 hingga 31 Januari 2024 di Yogyakarta.
Berkisah tentang NU yang genap berusia 101 tahun pada 28 Januari 2024 mendatang, tentu tak terpisahkan dari salah satu organisasi dibawah naungannya, yaitu Banser NU (Barisan Serbaguna NU). Di Kota Mojokerto, ada sosok anggota Banser yang patut diteladani.
Semangat toleransi dan jiwa kemanusiaannya. Sosok tersebut adalah Riyanto. Pemuda kelahiran Kediri, 19 Oktober 1975 tersebut gugur karena ledakan bom saat membantu menjaga keamanan di Gereja Eben Haezer Kota Mojokerto.
Pada 24 Desember 2000 yang bertepatan dengan hari ke-28 bulan Ramadan, Riyanto berpamitan kepada ibunya, Katinem. Riyanto berpamitan untuk turut menjaga Gereja Eben Haezer Mojokerto bersama sejumlah anggota Banser lainnya.
Ia melewatkan buka puasa bersama keluarganya untuk menjaga gereja. Riyanto juga meminta izin untuk tidak pulang ke rumah karena berencana akan beriktikaf di masjid selepas tugas menjaga gereja.
Sekitar pukul 20.30 WIB, Riyanto mendapat laporan adanya benda mencurigakan di depan gereja dari jemaat. Bentuknya bungkusan tas plastik dan tas berisi kado di bawah telepon umum depan gereja.
Riyanto kemudian berinisiatif mengambil dan menyerahkan ke polisi yang berjaga. Setelah dicek ternyata bungkusan plastik itu berisi bom. Petugas yang berjaga kemudian meminta semua menjauh dan tiarap.
Riyanto justru membawa lari benda itu, menjauhkan dari gereja. Bungkusan berisi bom meledak saat ia mencoba menyelamatkan Gereja Eben Haezer dari percobaan peledakan pada malam 24 Desember 2000.
Saat berusaha mengamankan itulah, bom meledak. Tubuhnya terpelanting sejauh 30 meter, tak lama kemudian bom kedua juga meledak. Tidak ada jemaat yang menjadi korban jiwa. Namun, Riyanto wafat.
Penjabat (Pj ) Wali Kota Mojokerto, Moh Ali Kuncoro mengatakan, sikap Riyanto mengedepankan toleransi dan semangat rela berkorban. Nilai ketangguhan yang berlandaskan toleransi tanpa memandang perbedaan harus terus digemakan.
“Semangat yang dibawa Riyanto inilah yang harus kita gelorakan di masa saat ini, demi mewujudkan Mojokerto yang guyup rukun dan damai,” ungkapnya usai pertemuan dengan Ketua GP Ansor Kota Mojokerto di Rumah Rakyat Kota Mojokerto, Sabtu (27/1/2024).
Sementara itu, Ketua GP Ansor Kota Mojokerto Ahmad Saifulloh mengatakan, Riyanto pemuda yang pendiam, tekun dan telaten. “Sebagai anggota Banser, ia sosok yang taat dan patuh pada pimpinan, lugas serta sat-set dalam menjalankan tugas. Memiliki solidaritas tinggi kepada sesama anggota Banser,” tegasnya. [tin/kun]






