Malang (beritajatim.com) – Tim Peneliti Universitas Islam Malang (Unisma) yang dipimpin oleh Dr. Ari Ambarwati, S.S., M.Pd. menemukan ragam praktik sekaligus kendala penerapan ekoliterasi di dua sekolah dasar di Kota Malang. Kegiatan pengambilan data dilakukan di SDN 02 Pandan Landung pada Selasa (12/8/2025) dan di SDI Wahid Hasyim pada Rabu (13/8/2025).
Penelitian ini merupakan bagian dari riset berjudul ‘Aktualisasi Ekoliterasi di Sekolah: Kelayakan Desain Self-Curation Bacaan Sastra Berwawasan Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan’. Riset tersebut didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Kemdiktisaintek, melalui skim Penelitian Fundamental Regional 2025.
Selain Dr. Ari, tim peneliti juga terdiri dari Itznaniyah Umie Murniatie, S.Pd., M.Pd. (Dosen PBSI), Dr. Atik Umamah, S.Pd., M.Pd. (Dosen PBI), dan Hamdani Dwi Prasetyo, S.Si., M.Si. (Dosen MIPA). Penelitian ini turut melibatkan mahasiswa Unisma, yakni Safira Ramadani Mahfud, Aisyah Romadhoni Salsabila, dan Wahda Rahma Laila.
Kegiatan difokuskan pada pemetaan praktik ekoliterasi yang terintegrasi dengan bacaan sastra serta kebijakan sekolah terkait. Tim menilai kesiapan, tantangan, dan potensi engembangan desain self-curation bacaan yang mendorong literasi lingkungan.
Hasil temuan dari masing-masing sekolah menjadi dasar untuk merumuskan rekomendasi yang relevan. Di SDN 02 Pandan Landung, tim mencatat adanya kebijakan pembiasaan membawa bekal dari rumah, Namun, implementasi kebijakan tersebut tidak berlangsung lama.

“Kami sempat membuat aturan pembiasaan membawa bekal dari rumah, tapi mendapat tanggapan negatif dari masyarakat yang sudah lama berjualan di sekitar sekolah, juga anak-anak cenderung lebih tertarik membeli,” ujar Suci, salah satu guru yang diwawancarai tim peneliti.
Sementara itu, Muhammad Shodiq, kepala sekolah SD Wahid Hasyim mengenalkan program pengelolaan konsumsi air dan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai.
“Kami sediakan gallon setiap kelas, setiap anak punya gelas masing-masing. Selain membiasakan mengurangi pemakaian plastic, itu juga melatih tanggung jawab mereka, yaitu saat harus mencuci gelas setelah dipakai,” kata Muhammad Shodiq.
Sekolah tersebut juga mulai mengelola sampah organic menjadi kompos. Dua komposter sudah tersedia, namun keberlanjutan pengelolaan measih perlu penguatan. “Kalau sampah daun kering kami jadikan kompos, sudah ada dua komposter tetapi pengelolaannya belum stabil dan konsisten,” lanjut Shodiq.
Anggota tim peneliti, Dr. Atik Umamah, menyampaikan bahwa pihaknya akan melakukan analisis lanjutan dari data yang terkumpul untuk memetakan kebutuhan kurasi bacaan sastra berwawasan lingkungan. Tujuannya, menghasilkan desain yang aplikatif dan sesuai karakteristik sekolah.
“Kami akan kembali ke sekolah setelah semua data sudah dikelola, dan kami sudah mendapatkan desain kurasi yang sesuai dengan kebutuhan sekolah,” jelas Atik.
Tim berharap kegiatan ini dapat mendorong praktik ekoliterasi yang berkelanjutan melalui integrasi bacaan sastra dan kebijakan sekolah. Temuan di dua sekolah ini juga menegaskan pentingnya kolaborasi pemangku kepentingan untuk memperkuat budaya ramah lingkungan sejak dini.
“Kegiatan ini kami harap dapat mendorong praktik ekoliterasi yang berkelanjutan melalui integrasi bacaan sastra dan kebijakan sekolah. Temuan di dua sekolah menunjukkan pentingnya kolaborasi pemangku kepentingan untuk memperkuat budaya ramah lingkungan sejak dini,” kata Atik menutup. (dan/but)






