Surabaya (beritajatim.com) – Ribuan tenaga kerja muda asal Jawa Timur (Jatim) resmi melangkah ke pasar internasional. Jatim mendominasi pengiriman lulusan sekolah vokasi ke luar negeri pada tahun ini.
Sebanyak 3.600 alumnus Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) mendapat penempatan kerja lintas negara. Dari angka tersebut, kontribusi Jatim mencapai 1.734 orang.
Lulusan asal Jatim tersebut berasal dari 115 SMK negeri maupun swasta. Mereka akan mengisi berbagai pos pekerjaan dengan Jepang sebagai destinasi tertinggi yang menyerap 1.216 pekerja.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyampaikan keseriusan pemerintah dalam menyiapkan tenaga kerja andal. Pihaknya menghadirkan Program Kelas Keberkerjaan Luar Negeri SMK 3+1.
“Programnya ada dua. Pertama pelepasan lulusan SMK dan kursus untuk bekerja di luar negeri. Kedua peluncuran program SMK 3+1 untuk menyiapkan lulusan memasuki dunia kerja,” kata Mu’ti, Rabu (20/5/2026).
Skema baru ini mengharuskan siswa belajar tiga tahun di bangku sekolah. Setelah itu, peserta mendapat tambahan satu tahun pembekalan kerja langsung dari perusahaan atau agensi internasional.
“Kami memberikan pelatihan bahasa dan pembekalan budaya, regulasi hingga sistem hukum negara tujuan agar mereka siap bekerja secara profesional,” ujarnya.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen Tatang Muttaqin menyebut pengiriman ini adalah tahap awal. Pemberangkatan kloter pertama memang didominasi wilayah Jatim.
“Setelah ini akan ada pelepasan dari provinsi lain secara bertahap dalam tiga sampai empat bulan ke depan,” tutur Tatang.
Ia merinci permintaan pasar kerja sangat beragam bergantung pada negaranya. Jepang dan Korea mencari perawat lansia, tenaga pertanian, serta manufaktur, sementara Turki banyak menyerap tenaga perhotelan.
“Setiap negara punya kebutuhan berbeda dan mereka percaya dengan tenaga kerja dari Indonesia,” ungkapnya.
Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim Aries Agung Paewai menyebut tingginya serapan tenaga kerja daerahnya merupakan hasil kerja panjang. Ada keselarasan antara kurikulum vokasi dengan permintaan industri.
“Capaian ini tidak lepas dari penguatan strategi pentahelix serta kesesuaian antara kurikulum SMK dengan kebutuhan industri internasional,” jelas Aries.
Wilayah Tulungagung menduduki peringkat teratas penyumbang tenaga kerja di Jatim dengan 1.628 orang. Dindik Jatim terus mendorong pihak sekolah agar konsisten meningkatkan kualitas pembelajaran.
“Kami terus mendorong sekolah memperkuat empat pilar pengembangan, yakni peningkatan pembelajaran, akselerasi sertifikasi kompetensi standar asing, penguatan bahasa, serta perluasan kerja sama,” tegasnya. [ipl/suf]






