Jember (beritajatim.com) – Ribuan hektare tembakau cerutu na-oogst dan kesturi di Kabupaten Jember, Jawa Timur, terendam banjir menjelang panen. Kerugian ratusan miliar rupiah di depan mata.
Sekitar 3.200 hektare tembakau di Kecamatan Ambulu dan Wuluhan terendam banjir, menyusul hujan lebat yang turun pada Jumat (7/7/2023) dan Sabtu (8/7/2023). “Rata-rata biaya operasional petani Rp 50 juta per hektare. Tinggal hitung berapa kerugiannya,” kata Muhammad Zainul Aspar, petani tembakau asal Desa Ampel, Kecamatan Wuluhan, Selasa (11/7/2023).
Banjir terjadi di Desa Ampel. Tanjungrejio, Kesilir, Sabrang, Sumberejo, Lojejer, Dukuhdempok. Air banjir mengalir dari Pegunungan Watangan. Sabuk gunung di sana jebol. “Air seperti air bah,” kata Suryanto, petani asal Desa Kesilir.
Selama dua hari hujan turun dan banjir terjadi, petani sudah berupaya menyedot air dengan mesin diesel. “Tapi hujan terlalu besar. Kami tidak mampu,” kata Zainul yang merupakan pegiat Gabungan Kelompok Tani Rukun Agawe Santoso.
Saat ini sebagian air banjir sudah mulai surut. Namun di wilayah Desa Kesilir, Kecamatan Wuluhan, air masih menggenang. “Tembakaunya habis. Lemas semua,” kata Zainul.
Petani tembakau sama sekali tidak menduga banjir akan turun deras selama dua hari berturut-turut. Suryanto mengatakan, kondisi tahun ini berkebalikan dengan tahun lalu. “Tahun kemarin harga tembakau mahal, sehingga tahun ini petani yang kemarin tidak menanam pun ikut menanam semua,” katanya.
“Kami tidak berharap curah hujan terlalu tinggi. Kalau tinggi, jelas tanaman mati. Tembakau ini kan tidak sangat suka air,” kata Zainul.
“Bulan-bulan ini seharusnya kami mulai panen. Istilah orang Jawa, ‘iki wis arep mangan, ditamplek’ (sudah tinggal makan, justru ditepis, red). Tinggal petik panen. Sekarang daunnya layu, habis, lemas. Tidak bisa diselamatkan sama sekali. Kalau dijual tidak laku,” kata Zainul.
Suryanto menambahkan, sepuluh hari lagi petani tembakau akan panen. “Saat turun hujan pertama, kami masih punya harapan kalau hujan berhenti, tembakau masih bisa diselamatkan. Saat belum hujan, tanaman tembakau yang ada bagus sekali,” katanya.
Sebagian tembakau kesturi dibudidayakan dengan sistem kemitraan antara petani dengan perusahaan rokok. Sementara tembakay cerutu dibudidayakan dengan sistem kemitraan antara petani dengan eksportir.
Petani meminta pemerintah daerah turun tangan untuk melobi kepada bank agar mau melonggarkan pembayaran pinjaman. “Ini kan bencana alam. Petani banyak yang pinjam dari perbankan. Kami tetap membayar, tapi mohon diberi kesempatan perpanjangan masa pembayaran,” kata Zainul.
Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Jember memang sudah menurunkan petugas untuk memantau keadaan. Namun petani memandang penentu kebijakan adalah bupati.
Setelah ini, petani akan menanam palawija. “Budidaya di wilayah Jember selatan sudah hancur. Kami minta agar mendapat pupuk bersubsidi. Kebijakan ini kan ada di Pak Bupati. Jadi masyarakat meminta bupati agar segera turun ke lapangan,” kata Zainul.
Harapan agar Bupati Hendy Siswanto bisa menemui petani pun terlontar dari Suryanto. “Teman-teman minta Pak Bupati hadir di tengah-tengah kami agar tahu kondisi tanaman tembakau hancur semua,” katanya.
Petani juga meminta pemerintah daerah untuk memperbaiki sabuk gunung di Watangan. “Harapan petani adalah memungkinkan tanam ulang tembaku. Tapi pupuknya tidak ada. Harapan petani, kalau kami menanam tembaku (lag), mohon pupuk bersubsidinya disiapkan. Kami juga beli,” kata Suryanto.
Petani juga minta pemerintah memperjelas hal-ihwal asuransi. Menurut Suryanto, Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Perkebunan Jawa Timur sudah meminta data petani tembakau untuk diajukan ke asuransi usaha tani. “Kami sudah mendata. Data sudah kami kirim,” katanya. Namun ternyata Dinas TPHP Jember menyatakan asuransi usaha tani masih berupa wacana dan belum direalisasikan.
Ini yang bikin Suryanto galau. “Mendata ke petani ini beban mental. Kami ditanya loh, asuransi yang kemarin (dijanjikan) bagaimana. Ini yang menyuruh dinas. PPL (Petugas Penyuluh Lapang) terjun. Data petan kelompok dan hampatan kami masukkan, sehingga muncul asuransi. Setelah ada bencana seperti ini, kami ditagih bagaimana kelanjutan asuransi ini,” katanya. [wir]






