Sidoarjo (beritajatim.com) – Pemkab Sidoarjo langsung merespons realisasi pembangunan Jembatan Bailey di Desa Kedungpeluk Kec. Candi yang pekan lalu putus atau ambrol.
Pemerintah kini mulai melakukan aktivitas untuk pembangunan Jembatan Bailey. Pemerintah mulai mendatangkan berbagai material ke lokasi.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Sumber Daya Air (DPUBMSDA) Sidoarjo Dwi Eko Saptono mengatakan dirinya sudah memantau langsung pembersihan jembatan di Kedungpeluk.
Sejumlah material pembangunan jembatan Bailey dari Pemrov Jatim itu sudah bisa didatangkan ke lokasi. Panjangnya 30 meter dengan lebar sekitar 4 meter. “Jika tidak ada kendala, pemasangan jembatan Bailey berlangsung satu pekan,” ucapnya Rabu (24/7/2024).
Dwi Eko menjelaskan Pemkab Sidoarjo berupaya melakukan percepatan-percepatan agar akses masyarakat segera pulih. Sebab, dampak putusnya Jembatan Kedungpeluk cukup signifikan.
Ia mencontohkan pengiriman hasil tambak warga terkendala.
Jembatan permanen itu tidak jadi dibangun pada 2025, melainkan dipercepat tahun ini juga.
”Ini persiapan dokumen administrasi untuk lelangnya,” ungkapnya.
Proses lelang buruh waktu sekitar 1 bulan. Direncanakan, pada September mendatang, jembatan permanen bisa mulai dibangun. Lebar jembatan baru 7 meter dan panjang 21,7 meter. Seluruhnya dituntaskan tahun ini juga.
Rencananya, pekerjaan fisik digarap maksimal selama 3 bulan. Jadi, pada November 2024 ini, jembatan baru bisa selesai.
”November atau awal Desember, jembatan permanen yang baru sudah bisa digunakan,” janjinya.
Plt Bupati Sidoarjo H. Subandi ingin kesulitan-kesulitan masyarakat Desa Kedungpeluk dan sekitarnya bisa segera teratasi. Perekonomian warga kembali normal. Air bersih juga tercukupi. Lebih-lebih akses pendidikan anak-anak yang sangat penting bagi masa depan mereka.
”Sebagai pimpinan daerah, kami ingin masyarakat mendapatkan kemudahan dalam menjalankan kegiatannya. Kebutuhan sehari-hari bisa tercukupi,” harap Subandi.
Sebelumnya, jembatan di Desa Kedungpeluk, Kec. Candi, putus pada Selasa (16/7/2024). Masyarakat desa setempat berharap jembatan itu segera dibangun lagi. Sebab, dampak ambrolnya jembatan sangat menyulitkan mereka.
Perekonomian desa terhambat akibat tidak adanya akses untuk kendaraan mobil, pikap, atau truk. Jembatan itu juga sangat penting bagi warga untuk memperoleh suplai air bersih.
Bila tidak segera diperbaiki, truk pengangkut air bersih juga tidak bisa masuk untuk menyalurkan air bersih ke warga Desa Kedung Peluk. (isa/ian)






