Kediri (beritajatim.com) – Maraknya peristiwa bunuh diri yang terjadi dalam dua hari berturut-turut di wilayah Kediri pada 23-24 April 2026 menjadi alarm keras bagi para pendidik dan praktisi kesehatan mental. Kasus terbaru yang melibatkan seorang pelajar berusia 15 tahun diduga dipicu oleh permasalahan asmara menegaskan urgensi penguatan fondasi spiritual dan pendampingan psikologis di lingkup keluarga maupun sekolah.
Praktisi Profesional Hipnoterapi sekaligus pengurus DPD Perhisa Kediri, H. Basingkem, menilai fenomena ini berakar dari kerapuhan mental individu yang merasa tidak lagi memiliki sandaran hidup saat menghadapi konflik berat. Menurutnya, kekuatan mental seseorang tidak tumbuh secara instan, melainkan dibentuk oleh pola asuh dan kualitas pendidikan spiritual yang diterima sejak dini.
Pentingnya Kehadiran Emosional Orang Tua
Dalam analisisnya, Basingkem menyoroti kesibukan orang tua yang sering kali terjebak dalam pemenuhan materi, namun mengabaikan kebutuhan emosional anak. Padahal, bagi seorang remaja, perhatian dan kasih sayang yang tulus merupakan instrumen utama dalam membangun ketahanan mental (resilience).
“Kesibukan terkadang menjadikan kurangnya perhatian terhadap anak. Padahal yang dibutuhkan bukan sekadar materi, tapi kasih sayang yang nyata agar anak tidak merasa sendirian saat menghadapi masalah,” jelas Basingkem, Sabtu (25/4/2026).
Hipnoterapi: Jalan Pintas Mengatasi Luka Batin
Bagi individu yang sudah berada di fase depresi atau stres berat, pemberian nasihat secara verbal sering kali tidak memberikan hasil yang signifikan dalam waktu singkat. Hal ini dikarenakan beban emosional telah tertanam jauh di dalam pikiran bawah sadar.
Sebagai solusi, Basingkem menawarkan metode hipnoterapi sebagai langkah taktis untuk melakukan “pemrograman ulang” pada pikiran bawah sadar. Melalui teknik ini, beban mental yang menghimpit dilepaskan (release) dan diganti dengan sugesti positif seperti pemaafan diri, kasih sayang, dan kemampuan berdamai dengan takdir.
“Hipnoterapi mampu memangkas waktu penyembuhan dibandingkan hanya sekadar memberikan nasihat. Kami membedah masalah di tingkat bawah sadar agar seseorang bisa kembali berpikir positif dan tenang,” tambahnya.
Aksi Nyata: Layanan Terapi Gratis bagi Pelajar
Merespons krisis mental di kalangan generasi muda, DPD Perhisa Kediri menyatakan kesiapannya untuk memberikan bantuan terapi gratis khusus bagi para pelajar yang mengalami luka batin atau gangguan kecemasan. Program ini merupakan bentuk sumbangsih praktisi hipnoterapi dalam menyelamatkan aset bangsa dari ancaman depresi akut.
“Pelajar adalah aset masa depan. Kami tidak ingin mengakhiri hidup menjadi pilihan mereka hanya karena merasa buntu. Bunuh diri bukan solusi, dan kami siap membantu mereka melalui masa-masa sulit tersebut secara cuma-cuma,” tegas Basingkem.
Data Nasional: Isu Serius di Usia Produktif
Berdasarkan data Pusiknas Bareskrim Polri hingga April 2026, kasus bunuh diri di Indonesia masih menunjukkan tren yang memprihatinkan, khususnya di kalangan usia produktif. Secara nasional, tercatat rata-rata lebih dari 100 kasus bunuh diri terjadi setiap bulannya. Triger utama yang mendominasi meliputi masalah asmara, himpitan ekonomi, dan depresi yang tidak tertangani secara profesional.
Upaya preventif melalui penguatan literasi kesehatan mental di sekolah-sekolah kini dipandang sebagai langkah wajib guna menekan angka fatalitas akibat gangguan psikologis di masyarakat.
Diberitakan sebelumnya, dua kasus bunuh diri terjadi secara beruntun di Kediri. Kamis (23/4/2026), diduga depresi, seorang pria nekat masuk ke kolong truk tangki yang melintas di depan SMPN 1 Mojo Kediri. Sehari setelahnya, siswa SMP ditemukan gantung diri di gudang Masjid Bidayatul Mutahdin Burengan karena asmara, pada Jumat malam (24/4/2026). [nm/beq]






