Surabaya (beritajatim.com) – Di tengah fokus Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang sedang berupaya keras menanggulangi Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di Sumenep, muncul seruan provokasi untuk demo 3 September yang dinilai tidak berempati.
Relawan Jatim Sehat sangat menyayangkan seruan aksi demonstrasi yang digagas oleh pengacara yang juga politikus Muhammad Sholeh. Hal ini berpotensi mengganggu stabilitas dan menyakiti perasaan para korban dan keluarganya.
Seperti diketahui, Pemprov Jawa Timur telah bergerak cepat menangani KLB campak di Sumenep. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, telah mengirimkan 9.825 vial vaksin Measles and Rubella (MR) sebagai langkah awal.
Data per 21 Agustus 2025 menunjukkan adanya 2.035 kasus suspek campak, dengan 17 balita di antaranya meninggal dunia. Ini merupakan masalah serius yang mendapatkan perhatian khusus.
“KLB campak di Sumenep menjadi perhatian kita bersama. Kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Sumenep, Dinas Kesehatan Jatim, dan Kementerian Kesehatan,” kata Khofifah.
Sebagai tindak lanjut, Gubernur Khofifah Bersama dengan Pemprov Jatim, Pemkab Sumenep, Kemenkes, UNICEF dan WHO akan melaksanakan Outbreak Response Immunization (ORI) secara serentak di 26 wilayah kerja puskesmas, yang menyasar anak usia 9 bulan hingga 6 tahun.
Program ini akan berlangsung mulai 25 Agustus hingga 14 September 2025. Selain itu, Pemprov juga memberikan on the job training (OJT) pembuatan kajian epidemiologi KLB PD3I kepada seluruh puskesmas di Sumenep.
Namun, di tengah upaya kolosal dari berbagai stakeholder ini, Muhammad Sholeh alias Cak Sholeh justru menyerukan aksi demonstrasi untuk menurunkan Gubernur Khofifah pada 3 September 2025. Melalui poster yang tersebar di media sosial, Sholeh mengajak massa berkumpul di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, dengan mengatasnamakan ‘Rakyat Jawa Timur Menggugat’.
Menanggapi hal ini, Dewan Pembina Relawan Jatim Sehat, dr. Makhyan Jibril, SpJP, mengungkapkan kekecewaannya.
“Kita tahu bahwa wabah campak ini serius dan sudah ada 17 balita meninggal dunia menjadi korban. Saat ini, Bu Khofifah bersama dengan Pemprov Jatim, Pemda, Kemenkes dan lembaga internasional sedang fokus untuk bahu membahu menangani wabah ini, tapi justru malah provokator ini membuat keributan. Artinya, provokator ini tidak punya empati terhadap anak-anak korban campak ini,” tegasnya.
Dr. Makhyan Jibril menambahkan, bahwa seruan demo di tengah upaya massal penanganan wabah ini menunjukkan kurangnya empati terhadap penderitaan para korban.
“Apalagi saat ini Gubernur Khofifah fokus kerja untuk menangani wabah tersebut. Saya rasa ini juga bukti bahwa Cak Sholeh tidak berempati terhadap 17 balita yang telah meninggal karena campak,” tukasnya.
Relawan Jatim Sehat berharap semua pihak dapat bersatu dan mendukung upaya pemerintah dalam menangani KLB ini, alih-alih membuat kegaduhan yang tidak produktif dan hanya menambah beban di tengah situasi darurat kesehatan yang terjadi.
Dibandingkan hanya membuat demo yang tidak produktif ini, Jibril justru mengajak Sholeh yang mengatasnamakan ‘Rakyat Jawa Timur Menggugat’ ini untuk turut berkontribusi menangani wabah ini Bersama. “Mari buktikan kalau mengaku peduli warga Jatim, buktikan kontribusi nyata dalam penanangan wabah ini,” pungkasnya. (tok/ted)






