Malang (beritajatim.com) – Rektor UIN (Universitas Islam Maulana Malik Ibrahim) Malang, Prof. Dr. M. Zainuddin, MA., menyampaikan bahwa ibadah kurban merupakan pelajaran untuk meneladani kepemimpinan Nabi Ibrahim as. Hal itu disampaikannya saat khutbah di masjid Nuruttaqwa, kota Malang pada idul adha 1444 H di UIN Malang, Kamis (29/5/2023) pagi.
Menurut Rektor yang akrab disapa Prof Zain ini, dalam setiap kesempatan idul adha manusia diingatkan oleh peristiwa besar, yaitu peristiwa pengorbanan yang dialami Nabi Ibrahim as. Marilah kita belajar dari peristiwa besar ini. Nabi Ibrahim as. adalah contoh dan teladan manusia yang berjiwa tauhid, yang bersedia berkorban untuk mencapai derajat taqwa.
“Ibadah korban merupakan manifestasi ajaran tauhid yang tidak terlepas dari semangat pemupukan jiwa solidaritas. Hal itu tercermin dalam QS.surat al-Hajj ayat 27-28,” ujar Rektor yang menjabat sejak tahun 2021 ini.
Jika digali lebih dalam, sesungguhnya ibadah kurban lebih dari sekadar ibadah simbolik dengan menyembelih binatang ternak, tetapi ia sarat dengan nilai fundamental. Umat Islam diperintahkan untuk memiliki kekokohan iman dalam setiap saat dan waktu, umat Islam diperintahkan untuk mentaati semua perintah Allah, meski tampak berat sekalipun.
“Kita tidak hanya diperintahkan berkurban dan kemudian dagingnya dibagikan kepada fakir-miskin, lebih dari itu kita diperintahkan berkorban untuk melahirkan nilai takwa, nilai sosial-kemanusiaan, bukan membuat orang lain jadi korban, atau dikorbankan, seperti yang terjadi selama ini. Itulah maka Allah menegaskan dalam firman-Nya dalam al-Haj ayat 37,” tuturnya.
Menurut guru besar kelahiran Bojonegoro ini, semua amal ibadah dalam ajaran Islam hakikatnya merupakan penjabaran dari pelaksanaan tanggung jawab sosial. Hal itu erat kaitannya dengan upaya membangun hubungan kemanusiaan dan peningkatan kesejahteraan sosial, mulai dari shalat, puasa, zakat, haji dan termasuk syariat korban ini.
Misalnya, ibadah puasa mengandung hikmah menumbuhkan rasa kasih sayang kepada kaum dhuafa. Shalat berperan membentuk jiwa dan kepribadian yang bertanggung jawab dan disiplin diri, tawadhu dan khusyu serta solidaritas sosial.
Kemudian, zakat, infaq, dan shadaqah memiliki hikmah memberantas sifat kikir dan mengentas kemiskinan. Demikian pula ibadah haji berperan memupuk jiwa ketundukan kepada Allah SWT dan memahami makna persamaan derajat dalam masyarakat (egalitarianisme).
“Dengan demikian semua ajaran dan ibadah dalam Islam selalu terkait dengan hablun minallah wa hablun minannas, relasi vertikal dan horizontal yang serasi dan seimbang. Dalam konteks Idul Adha bahwa kesediaan orang mukmin menyembelih ternak kurban, sebagaimana yang dicontohkan oleh nabi Ibrahim as. merupakan wujud pengamalan iman untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT dengan rasa taat dan ikhlas,” jelas dosen yang pernah nyantri di Tambakberas Jombang ini.
BACA JUGA:
Unisma Malang Salurkan 24 Sapi dan 14 Kambing
Daging kurban yang dibagikan kepada fakir-miskin itu, secara konkret telah menunjukkan kepedulian orang beriman untuk turut melaksanakan ajaran keadilan sosial dan rasa kesetiakawanan. Menurutnya, ibadah kurban jelas merupakan pengamalan ajaran Islam yang melambangkan rasa solidaritas dan kasih sayang antar sesama manusia.
Di samping itu semua tugas sosial dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara bagi setiap muslim, merupakan tanggung jawab sosial yang harus ditunaikan, baik secara individu maupun kolektif, terutama bagi para pemimpinnya. “Oleh sebab itu hikmah yang bisa kita petik adalah, bagaimana kita mampu mengaitkan antara ajaran tauhid dengan dimensi kepedulian sosial,” ujarnya.
Ibadah kurban dalam pandangan Islam pada hakikatnya bukanlah sekadar mengalirkan darah binatang yang dikurbankan, melainkan dengan penyembelihan ternak kurban diharapkan mampu mewujudkan nilai takwa. Kemudian melahirkan sikap dan perbuatan yang terpuji di tengah-tengah masyarakat. Seluruh ibadah dalam ajaran Islam akhirnya bermuara pada nilai substansinya, yaitu tauhid dan kemanusiaan universal (teo-antroposentris).
“Akhirnya, marilah kita berdoa, semoga kita semua tetap dalam rahmat dan karunia-Nya. Dengan begitu kita menjadi bangsa yang kuat, baik secara ekonomis maupun agamis dalam negara yang gemah ripah loh jinawi di bawah pemimpin yang shaleh dan penuh amanah serta rasa tanggung jawab, yang bersedia berkorban demi kepentingan dan kesejahteraan umat. Amin ya Mujibassailin,” pungkasnya. [dan/but]






