Surabaya (beritajatim.com) – Di tengah gemerlap perayaan 20 tahun Beritajatim.com di Grand City Convention and Exhibition, pada Selasa (21/4/2026), ada satu nada yang terdengar lebih kuat dari sekadar seremoni: permintaan maaf. Selebihnya adalah bertahan dan berkembang dalam situasi tekanan.
Bukan sekadar formalitas. Direktur Utama PT BeritaJatim Cyber Media, Ainur Rohim, menyampaikannya permintaan maaf dengan nada reflektif—seolah merangkum perjalanan panjang media yang tak selalu mulus.
“Kami memohon maaf sebesar-besarnya kepada seluruh narasumber. Jika selama ini ada pemberitaan yang dirasa kurang berkenan, bahkan menyakiti,” ucapnya.
Pernyataan itu membuka sisi lain dari perjalanan media: bahwa di balik setiap berita, ada kemungkinan gesekan, ada pihak yang merasa dirugikan, bahkan terluka. Ainur tidak menampik itu. Namun ia juga menegaskan satu hal yang menjadi garis pertahanan utama media: fakta lapangan.
“Semua yang kami sajikan adalah hasil kerja jurnalistik di lapangan,” tegasnya.
Bertahan selama dua dekade di industri media digital bukan sekadar soal eksistensi, tetapi juga soal adaptasi. Ainur mengakui, perjalanan Beritajatim tidak selalu nyaman.
“Bisa sampai di titik ini bukan hal mudah,” katanya.
Pernyataan itu bukan tanpa konteks. Industri media, terutama digital, berada dalam tekanan: kecepatan, akurasi, tekanan publik, hingga tuntutan bisnis. Dalam situasi itu, ruang untuk kesalahan selalu ada.
Hal ini juga disinggung oleh Dwi Eko Lokononto, yang juga sebagai Pendiri sekaligus Pemred Beritajatim.com. Ia secara terbuka mengakui bahwa dalam proses pemberitaan, kekhilafan bisa terjadi.
“Mungkin ada kesembronoan dalam publikasi. Ada yang merasa tersakiti, terdzolimi, bahkan merasa nama baiknya tercemar. Kami mohon maaf,” ujarnya.
Namun ia menekankan, yang terpenting bukan sekadar mengakui kesalahan, tetapi bagaimana memperbaikinya.
“Bisnis media itu tidak gampang. Tantangannya bagaimana menyajikan berita yang baik dan sehat,” tambahnya.
Di tengah kritik dan tekanan, satu hal yang membuat Beritajatim tetap berdiri dan berkembang adalah kepercayaan narasumber dan publik. Hal ini berulang kali ditekankan dalam sambutan manajemen.
Direktur Usaha, Saptini Darmaningrum, memilih nada yang lebih hangat. Ia menyebut kehadiran para narasumber dan tamu undangan sebagai bentuk kepercayaan yang tidak ternilai.
“Kami sangat berterima kasih. Ini kehormatan besar bagi kami,” katanya.
Namun kepercayaan itu, jika ditarik lebih jauh, bukan sesuatu yang datang begitu saja. Ia dibangun dari interaksi panjang antara media dan publik—yang kadang harmonis, kadang juga penuh ketegangan.
Perayaan 20 tahun ini juga memperlihatkan luasnya jejaring Beritajatim. Puluhan institusi hadir, mulai dari sektor industri seperti JIIPE, PT Jatim Grha Utama, Husky-CNOOC Madura Limited, hingga PT Pertamina EP Cepu.
Tak hanya itu, penghargaan juga diberikan kepada berbagai pihak—dari program sosial seperti kampung hidroponik dan pengelolaan sampah, hingga sektor pendidikan, olahraga, dan tokoh-tokoh inspiratif Jawa Timur.
Nama-nama besar turut masuk dalam daftar penerima penghargaan, termasuk Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria, yang juga hadir memberikan sambutan.
Di sisi lain, penghargaan khusus dua dekade diberikan kepada institusi strategis seperti PT Pertamina, Pemprov Jawa Timur, hingga aparat penegak hukum.
Namun jika dicermati, peringatan ini bukan hanya tentang selebrasi. Ada pesan yang lebih dalam: refleksi sekaligus pengakuan bahwa media tidak selalu benar, tetapi harus selalu bertanggung jawab.
Di tengah perubahan lanskap informasi yang semakin cepat dan bising, tantangan ke depan justru semakin kompleks. Pertanyaannya bukan lagi sekadar bertahan, tetapi bagaimana tetap dipercaya dan berkembang.
Saptini menutup dengan harapan yang sederhana, namun berat maknanya: agar Beritajatim terus berkembang dan menjadi lebih baik.
Di usia 20 tahun, media ini tampaknya menyadari satu hal penting—bahwa umur panjang bukan jaminan, jika tidak dibarengi keberanian untuk mengoreksi diri. (rap/but)






