Jember (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten Jember dan Banyuwangi melakukan silaturahmi dan ngopi bareng dengan perwakilan warga Desa Mulyorejo dan Desa Banyuanyar di Kafe Gumitir, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Selasa (9/8/2022).
Pemkab Jember diwakili langsung Bupati Hendy Siswanto dan Pemkab Banyuwangi diwakili Sekretaris Daerah Mujiono. Mereka ditemani pejabat Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompimda) masing-masing.
[berita-terkait number=”5″ tag=”pemkab-jember”]
Pertemuan ini merupakan bagian dari upaya untuk meredakan konflik yang melibatkan warga Mulyorejo, Kecamatan Silo, Jember dan warga Banyuanyar, Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi. Konflik pecah dan terjadi pembakaran rumah sejumlah warga Mulyorejo pada rentang 3 Juli – 5 Agustus 2022.
Belakangan polisi berhasil mengungkap, bahwa sebagian besar pelaku adalah warga Banyuanyar yang merasa marah karena menjadi korban pemerasan preman Mulyorejo. Mulyorejo dan Banyuanyar memang berbatasan, dan sebagian warga dua desa tersebut adalah petani kopi di lahan milik Perhutani.
“Alhamdulillah dalam rembukan ini kita mencari solusi dan kesepahaman, bermusyawarah bersama adalah inti kebersamaan negeri ini. Pak Kapolres Jember menyampaikan penegakan hukum harus dilakukan dan warga tetap harus membantu aparat keamanan kita,” kata Hendy, usai pertemuan.
Penyelesaian masalah, menurut Hendy, memerlukan sinergi dan kolaborasi. “Satu dengan yang lain bisa menjaga kondusivitas wilayah. Semua ini harus dikemas sesuai tanggung jawab masing-masing,” katanya.
Salah satu yang dibicarakan adalah pembangunan akses jalan menuju kawasan Mulyorejo. Lokasi desa tersebut, terutama di Dusun Baban Timur, sangat susah dijangkau. “Akses jalan yang baik bisa digunakan untuk mendsitribusikan hasil panen. (Pembangunan) akses jalan bisa dilaksanakan jika kami bekerjasama dengan Perhutani,” kata Hendy.
“Pembangunan akses jalan tak akan bisa terbentuk tanpa bantuan teman-teman Perhutani atau Kehutanan yang di situ ada aspek legalitas dalam bentuk perjanjian kerjasama atau MOU perbaikan jalan,” kata Hendy.
Hendy berharap konflik tak terjadi lagi. “Harapan kami masyarakat Mulyorejo dan Banyuanyar ikut membantu untuk mendinginkan suasana, bahwa ini sudah aman, clear. Aparat dari Polres akan bergerak terus menyelesaikan persoalan ini sesuai regulasi,” katanya.
Ada sejumlah persoalan yang harus ditangani bersama. Salah satunya adalah legalitas pengelolaan lahan kopi. “Kedua, katanya ada premanisme warga, itu harus dibuktikan. Kalau tentang status lahan, kita harus selesaikan. Ada regulasi di situ. Ada regulasi yang harus kita selesaikan antara Perhutani, Pemkab Jember, bersama warga,” kata Hendy.
“Tentang katanya ada premanisme, inisial bermacam-macam disebut, itu pun harus dibuktikan. Dan nanti ada masalah hukum yang harus ditegakkan di situ. Profesionalisme instansi akan bergerak cepat dan bersama-sama, sehingga membuat nyaman warga semuanya,” kata Hendy.
“Warga sendiri punya tanggung jawab untuk mendinginkan wilayah masing-masing, agar anak-anak bersekolah, guru-guru tidak perlu ragu lagi. Ini adalah negara hukum. Tidak perlu ragu lagi sekolah dan proses belajar mengajar tak boleh terhenti,” kata Hendy.
Sementara itu, Administratur Perhutani Jember Imam Suyuti mengatakan, tanah lokasi konflik warga yang digunakan untuk budidaya kopi tersebut berada di petak 18 dengan luas 4.100 hektare. “Tapi pada 2012, muncul SPPT (Surat Pemberitahuan Pajak Terutang) dan HGU (Hak Guna Usaha),” katanya, Senin (8/8/2022).
Tanggal 17 Oktober 2012, pernah dilakukan cek lapangan oleh Kepolisian Sektor Sempolan (Silo), Kepolisian Sektor Genteng, Satuan Polisi Pamong Praja, pemerintah kecamatan, dan pemerintah desa. “Yang penting bagi kami gelar data dulu karena muncul SPPT dan HGU pada 2012. Kalau itu masih kawasan hutan, kami mengelolanya enak,” kata Imam. Permintaan pembangunan akses jalan bisa difasilitasi dengan cara bersurat ke Kementerian Kehutanan.
“Kalau itu masih kawasan hutan, untuk eksisting kopi, kami siap membuat perjanjian kerja sama dengan konsep PHBM (Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat). Beberapa desa yang lain seperti Desa Sidmulyo kami dengar ada ekpsor kopi, kami siap bekerjasama,” kata Imam. [wir/kun]






