Jember (beritajatim.com) – Perwakilan demonstran yang berunjuk rasa di depan gedung DPRD Jember, Kamis (16/6/2022), melakukan aksi intimidasi terhadap kegislator Partai Amanat Nasional Agus Khaeroni.
Para demonstran tersebut berasal dari sejumlah elemen di Jember yang mengusung beberapa isu, antara lain pembubaran Koperasi Jember Harmoni Sejahtera (KJHS), penolakan terhadap pergantian antarwaktu Kepala Desa Subo, dan pengusutan kasus dana Covid-19.
Jumadi Made, salah satu demonstran diiringi beberapa orang, lantas melakukan razia di ruang komisi untuk mencari anggota DPRD Jember untuk diminta menemui massa aksi. Di ruang Komisi C, ia bertemu dengan Agus Khaeroni yang sedang menelepon.
Agus kemudian mematikan teleponnya. “Ada apa? Ada apa?” tanyanya.
Jumadi kemudian langsung menarik tangan Agus. “Ayo, Pak, ayo pak,” katanya.
Mendapat perlakuan seperti itu, Agus terkejut. “Lho, ada apa ini? Sebentar,” kata Agus.
“Katanya tidak ada anggota Dewan,” tukas Jumadi.
Agus pun berjalan keluar dari ruang anggota Komisi C. “Sebentar ada apa ini?”
“Ini katanya tidak ada anggota Dewan di sini. Makanya saya sweeping. Kalau Anda ada, bilang ada,” tukas Jumadi.
“Lho, kita kan memang belum ke sana,” kata Agus.
Namun Jumadi tak mau kalah. “Kan mesti laporan (ke) sekretarisnya (Sekretariat Dewan, red). Kok gak laporan ke depan,” katanya sambil memukul-mukul meja komisi.
“Tidak, masalahnya ada apa ini?” Agus tetap mencoba melakukan klarifikasi dengan kalem.
“Begh, kok masih tanya? Sampeyan ini wakil rakyat, Pak,” tukas Jumadi, sambil menggebrak meja.
Agus mempersilakan perwakilan demonstran bertemu dengannya di dalam salah satu ruang DPRD Jember.
“Lho, tadi sudah bilang, tidak ada wakil rakyat (yang hadir),” sergah Jumadi, kembali menggebrak meja.
“Lho, ada saya di sini barusan,” kata Agus.
“Kalau ada kenapa (demonstran) tidak ditemui,” sergah Jumadi.
“Lho, (bertemu) di sini saja, di ruangan,” kata Agus.
“Kalau di ruangan, kenapa tidak bilang,” tukas Jumadi.
“Monggo, monggo,” kata Agus.
[berita-terkait number=”4″ tag=”dprd-jember”]
Salah satu demonstran kemudian mengajak Jumadi keluar. Namun rupanya Jumadi belum puas. Setelah sempat hendak meninggalkan ruangan, tiba-tiba ia berbalik ke arah Agus dan menggebrak meja lagi. Bahkan, salah satu kakinya sempat naik ke atas meja, seperti hendak mengambil ancang-ancang melompat. “Ooooo…” tukasnya. Salah satu demonstran kemudian buru-buru merangkul pundaknya dan mengajaknya keluar ruangan.
Agus akhirnya menemui perwakilan demonstran bersama Sunardi, anggota Komisi A dari Gerindra, dan Dogol Mulyono, legislator dari Perindo, untuk menampung aspirasi mereka. Namun, dalam pertemuan tersebut Jumadi kembali beraksi, membuang beras dari salah satu karung di hadapan anggota Dewan.
Agus tak urung, ia menyayangkan sikap demonstran tersebut. “Bagaimana teman-teman itu? Kenapa sampai seperti itu? Itu yang kita sayangkan,” katanya, usai pertemuan.
Agus mengaku tidak tahu apapun soal aksi unjuk rasa tersebut. Ia juga tidak mendapat penugasan untuk menemui perwakilan demonstran. Apalagi, sejumlah isu yang diusung perwakilan demonstran tidak ditangani oleh Komisi C, tempat Khaeroni bekerja, melainkan oleh komisi lainnya. “Kami tidak paham dengan apa yang diinginkan. Kami tidak dikasih tahu (isunya),” katanya.
Agus menyebut aksi gebrak meja tak seharusnya dilakukan. “Kalau menyampaikan pendapat, akan kami terima. Saya kira cuma masalah miss saja tadi itu. Ya kita memaklumi. Mungkin beliaunya menyuarakan pendapat kok tidak anggota Dewan,” katanya, berharap tidak terjadi lagi. [wir/but]






