Ringkasan Berita:
- Ratusan siswa dari 12 sekolah di Tembok Dukuh Surabaya diduga mengalami keracunan massal.
- Insiden terjadi usai para siswa menyantap menu program Makan Bergizi Gratis.
- Sekitar 200 anak mengalami gejala pusing, mual, dan muntah.
- Sampel makanan kini diuji laboratorium untuk mengetahui penyebab pasti.
Surabaya (beritajatim.com) – Ratusan siswa dari berbagai jenjang sekolah di kawasan Tembok Dukuh, Kecamatan Bubutan, Surabaya, dilaporkan mengalami keracunan massal pada Senin (11/5/2026).
Insiden ini diduga kuat terjadi setelah para siswa menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG), yang dibagikan secara serentak di sekolah masing-masing.
Para korban yang terdampak diperkirakan berasal dari 12 sekolah yang berbeda, mulai dari tingkat TK hingga SMP di wilayah tersebut.
Akibat gejala yang muncul secara mendadak, para siswa segera dilarikan ke Puskesmas dan rumah sakit terdekat dengan pendampingan orang tua mereka.
Ayu (34), salah satu orang tua murid di SD Negeri Tembok Dukuh IV, menceritakan bahwa ia pertama kali mendapat kabar mengejutkan ini melalui telepon dari pihak guru.
“Dari pihak sekolah tiba-tiba ini telepon minta jemput, bilang kepala (anaknya) pusing. Ternyata banyak yang muntah-muntah juga,” ungkap Ayu saat ditemui di Puskesmas Tembok Dukuh.
Putrinya Ayu, Nabila, mengaku merasakan pusing yang hebat serta mual pada perutnya sesaat setelah mengonsumsi makanan tersebut.
Berdasarkan pengamatan Nabila, gejala serupa dialami oleh banyak teman sekolahnya, terutama siswa laki-laki.
“Lumayan banyak cowoknya. Ceweknya cuma sedikit. Satu sekolah saya,” ujar siswi kelas 5A itu.
Nasib serupa juga menimpa Cicilia, siswi kelas 6 SD Negeri Tembok Dukuh III, yang harus mendapatkan perawatan intensif melalui cairan infus.
Sambil terkulai lemas di RS Ibu dan Anak IBI Surabaya, Cicilia menuturkan bahwa ia muntah-muntah setelah menghabiskan satu porsi menu MBG, dengan lauk daging sapi krengsengan.
“Pusing sama lemas. Saya muntah-muntah,” kata Cicil siswi kelas 6 SD di Rumah Sakit (RS) Ibu dan Anak IBI Surabaya.
Ia juga memperkirakan, ada lebih dari 80 teman di sekolahnya saja yang mengalami gejala serupa pada waktu yang hampir bersamaan, saat jam istirahat sekitar pukul 09.00 WIB.
“Di sekolah saya ada 80 lebih siswa yang mutah-mutah,” imbuhnya.
Kepala Puskesmas Tembok Dukuh, drg. Tiyas Pranadani, mengonfirmasi bahwa total korban sementara diperkirakan mencapai 200 anak.
Tiyas menjelaskan bahwa keduabelas sekolah yang terdampak tersebut diketahui mendapatkan pasokan makanan dari dapur penyedia yang sama.
“Sekitar 12 sekolah lah yang di dapur yang sama. Itu ada SD, ada TK, ada SMP. Jadi (korbannya) random,” kata Tyas.
Saat ini, prioritas utama tim medis adalah memberikan penanganan cepat guna memastikan kesembuhan seluruh siswa yang dirujuk ke Puskesmas maupun RS IBI.
Beruntung, sebagian besar gejala yang muncul masih dikategorikan ringan sehingga masih memungkinkan untuk ditangani secara efektif oleh tim medis.
“Gejalanya masih ringan, masih memungkinkan kita tangani, kita obati,” papar dia.
Untuk menyelidiki penyebab pastinya, pihak Puskesmas bersama Dinas Kesehatan Kota Surabaya telah mengamankan sampel makanan untuk diuji di Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK).
Secara paralel, Tim Inafis Polrestabes Surabaya juga telah melakukan olah TKP dan pemeriksaan mendalam di Dapur SPPG yang berlokasi di Jalan Demak Madya.
“Sampel sudah kami ambil di lokasi, kemudian masih akan kami cek di di BBLK bersama Dinas Kesehatan,” tutupnya. [rma/beq]






