Sumenep (beritajatim.com) – Ratusan sapi di Sumenep terserang penyakit Bovine Ephemeral Fever (BEF). Bahkan puluhan diantaranya mati.
“Sapi-sapi di Sumenep memang cukup banyak yang terserang BEF, disertai ‘tympani’ atau perut kembung,” kata Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Sumenep, drh Zulfa, Selasa (07/01/2025).
BEF juga dikenal sebagai demam tiga hari. Tahapan pertama adalah kehilangan nafsu makan dan minum (anorexia), kemudian demam diatas > 39°C, gemetar (hipertermia), keluar leleran cairan (serous) dari hidung (leleran nasal). Tahap selanjutnya adalah pembengkakan pada sendi yang dapat mengakibatkan pincang hingga ambruk, dan gejala lanjutan dapat diiringi dengan kembung. Penyakit ini disebabkan virus dengan penghantar nyamuk.
“BEF ini menular dari satu sapi ke sapi yang lain. Disertai dengan tympani atau perut kembung ini karena konsumsi rumput muda yang tidak dilayukan terlebih dahulu dan langsung diberikan pada sapi,” terang Zulfa.
Karena itu, ia berharap agar para pemilik sapi melayukan rumput muda sebelum diberikan ke sapi untuk menghindari timbulnya kembung. Zulfa juga mengimbau warga untuk selalu menjaga kebersihan kandang sapi dengan menyemprotkan disinfektan secara mandiri untuk mencegah penyebaran penyakit.
“Kami minta masyarakat segera melaporkan ke petugas di masing-masing kecamatan jika sapinya sakit, agar bisa segera ditangani. Jangan menunggu sakitnya parah. Kalau bisa segera ditangani, Insya Allah sapinya akan sembuh. Sudah cukup banyak kok yang sembuh setelah mendapat penanganan intensif petugas,” paparnya.
Sedangkan tentang penyakit mulut dan kuku (PMK), Zulfa mengaku di Sumenep juga ditemukan puluhan kasus. Namun sebagian besar sudah bisa ditangani dengan baik oleh petugas. “Yang penting jangan sampai terlambat penanganannya. Kemudian pisahkan sapi yang sakit dengan sapi yang sehat, agar tidak ketularan,” ujarnya.
Sebelumnya, ratusan sapi di Desa Prancak, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep dilaporkan terserang wabah penyakit. 40 diantaranya dilaporkan mati. Sejumlah peternak terpaksa menjual sapi-sapinya dengan harga sangat murah, karena khawatir sapi yang masih sehat ikut terserang penyakit dan mati. (tem/kun)






