Lumajang (beritajatim.com) – Krisis air bersih akibat kemarau panjang masih dirasakan warga di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, meski beberapa hari terakhir guyuran hujan mulai membasahi sejumlah wilayah.
Kesulitan tersebut salah satunya dirasakan mbah Sanom, warga Desa Tunjung, Kecamatan Gucialit, yang terpaksa mengais sisa air dari sumber yang hampir mengering dan kurang layak konsumsi.
Hampir setiap hari, sedikit demi sedikit mbah Sanom mengumpulkan air ke dalam jeriken berkapasitas kurang lebih 20 liter untuk dipakai memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Bahkan, air dari sumber yang tampak seperti kubangan tersebut tak hanya dipakai mandi, melainkan juga dipakai untuk kebutuhan minum dan masak.
Meski pemerintah telah menyalurkan bantuan air bersih di sejumlah titik, namun tidak semua warga bisa menikmatinya, seperti yang dialami mbah Sanom
Menurut mbah Sanom, ia dan sejumlah warga di Desa Tunjung, terpaksa mengais air lantaran tidak pernah terjangkau bantuan droping sejak krisis air berlangsung.
“Kurang lebih sudah 4 bulan, tidak kering, ada airnya sedikit-sedikit tapi kalau banyak orang yang ambil nggak cukup. Air ini dibuat minum, mandi, cuci baju, minum ternak,” ucap mbah Sanom di Lumajang, Jumat (30/10/2026).
Ia mengaku, kegiatan mengais air di kubangan tersebut hanya dilakukan saat memasuki musim kemarau.
Sedangkan, saat ada hujan, mbah Sanom dan warga Desa Tunjung, lain biasanya sangat bergantung dengan ketersediaan air hujan.
“Kalau musim hujan tidak mencari di sini, sumber ini hanya dibuat mandi orang pulang dari ladang. Kalau hujan ya pakai air hujan,” tambahnya.
Sementara itu, berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang, terdapat sebanyak 19 desa di 6 kecamatan yang mengalami krisis air bersih.
Sebelumnya, Pemkab Lumajang telah memperpanjang status tanggap darurat bencana kekeringan selama 90 hari yang baru berakhir pada 11 desember 2026. (has/ian)






