Malang (beritajatim.com) – Kota Malang menjadi pusat perhatian dunia medis Indonesia pekan ini dengan menjadi tuan rumah perhelatan akbar 24th Malang Cardiovascular Update (MCVU) 2025. Sebanyak 383 pakar jantung maupun pembuluh darah dari seluruh berkumpul membahas terobosan terbaru, sekaligus melahirkan sebuah inovasi krusial yang akan diadopsi secara nasional: Buku Pedoman Standar Layanan Kardiovaskular.
Acara yang berlangsung di Hotel Grand Mercure Malang ini tidak hanya menjadi forum ilmiah, tetapi juga sebuah platform strategis untuk menjawab tantangan serius penyakit jantung di Indonesia. Dalam konferensi pers yang digelar Jumat (22/8/2025), Sebagai tuan rumah, Ketua PERKI Cabang Malang, Prof. dr. Mohammad Saifur Rohman, Sp.JP(K), FIHA, menjelaskan bahwa acara ini merupakan komitmen untuk menghasilkan solusi nyata.
“Setiap tahun kami berusaha menghadirkan kontribusi nyata. Pada kesempatan ini, kami dari Malang meluncurkan Buku Pedoman Standar Layanan Kardiovaskular. Ini adalah sebuah produk intelektual yang kami harap bisa diadopsi secara nasional,” buka Prof. Saifur.
Menurutnya, buku ini adalah jawaban atas kesenjangan kualitas layanan kesehatan di Indonesia. Tujuannya adalah agar setiap tenaga kesehatan, mulai dari dokter di Puskesmas hingga dokter spesialis, memiliki panduan yang sama.
“Pasien jantung di mana pun ia berada akan mendapat pelayanan sesuai standar. Jika ia datang ke Puskesmas, dokter di sana tahu apa yang harus dilakukan, kapan harus merujuk, dan ke mana harus merujuk. Ini akan memperkuat jejaring kardiovaskular nasional dan sejalan dengan sistem Kemenkes serta BPJS Kesehatan,” paparnya.
Inovasi yang lahir di Malang ini mendapat dukungan penuh dari Pengurus Pusat PERKI. Ketua Umum PP PERKI, Dr. dr. Ade Meidian Ambari, Sp.JP(K), Ph.D., menegaskan bahwa buku pedoman ini adalah solusi yang sangat dibutuhkan di tengah krisis kesehatan nasional.
“Kita harus ingat, penyakit kardiovaskular adalah pembunuh nomor satu di dunia dan Indonesia. Satu dari tiga orang meninggal karenanya. Penyakit ini menjangkit 22 juta orang di Indonesia dan menjadi beban negara hingga belasan triliun rupiah,” ungkap Dr. Ade.
Ia menyoroti bahwa inovasi seperti buku pedoman ini menjadi semakin vital mengingat tantangan kekurangan sumber daya manusia.
“Jumlah dokter jantung aktif di Indonesia saat ini hanya 1.933 orang, sementara kebutuhan ideal kita mendekati 3.000. Dengan adanya buku pedoman ini, peran tenaga kesehatan di layanan primer menjadi lebih optimal dan terarah. Mereka diberdayakan untuk melakukan penanganan awal sesuai standar sebelum merujuk ke spesialis. Ini adalah langkah efisiensi yang cerdas,” tegasnya.

Di sisi lain, Ketua Pelaksana 24th MCVU, dr. Wella Karolina, Sp.JP, menekankan bahwa semua inovasi medis harus diimbangi dengan edukasi kepada masyarakat. Ia pun memaparkan cara mudah mengenali gejala awal penyakit jantung koroner.
“Gejala paling khas yang harus diwaspadai adalah nyeri dada yang spesifik. Nyeri ini akan muncul atau memberat saat seseorang beraktivitas fisik, dan akan berkurang atau hilang total ketika ia beristirahat. Ini adalah tanda klasik penyempitan pembuluh darah jantung,” jelas dr. Wella.
Ia menambahkan bahwa masyarakat yang memiliki faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, dan kebiasaan merokok harus lebih waspada terhadap gejala ini.
“Teknologi seperti aplikasi Detak yang juga kami perkenalkan di sini, sangat membantu. Masyarakat bisa memasukkan gejala yang dirasakan, dan aplikasi akan membantu mengarahkan apakah ini khas gejala jantung atau bukan, sehingga bisa segera mencari pertolongan yang tepat,” tutupnya. (dan/but)






