Ponorogo (beritajatim.com) – Ratusan kios dan lapak di Pasar Legi Ponorogo masih kosong, mencerminkan tantangan besar bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo dalam menghidupkan kembali pusat perdagangan tersebut. Berbagai upaya terus dilakukan agar pasar yang selesai dibangun pada 2021 ini bisa terisi penuh dan menjadi pusat ekonomi yang dinamis di Bumi Reog.
“Memang di setiap lantainya ada yang kosong,” kata Kepala Bidang Pasar Disperdakum Ponorogo, Okta Hariyadi, Senin (24/3/2025).
Okta mengungkapkan bahwa dari total 2.497 lapak dan 1.400 kios yang tersedia, tingkat keterisian masih jauh dari maksimal. Lantai tiga menjadi yang paling sepi dengan okupansi hanya 45 persen, diikuti lantai dua dengan 60 persen, lantai empat 75 persen, dan lantai pertama 80 persen.
“Sebagian pedagang menganggap lokasi kurang strategis dan minim lalu lintas pembeli,” jelas Okta terkait alasan pedagang enggan menempati lapak kosong di Pasar Legi.
Untuk mengatasi permasalahan ini, Disperdakum Ponorogo telah melakukan berbagai strategi, mulai dari menggelar event hingga menawarkan kios langsung kepada pedagang. Upaya tersebut sempat membuahkan hasil, namun tidak bertahan lama.
“Kami terus berupaya agar kios dan lapak kembali diminati. Perlu terobosan agar pasar ini kembali ramai,” tambahnya.
Salah satu tantangan terbesar dalam menghidupkan kembali Pasar Legi adalah perubahan pola belanja masyarakat yang kini lebih mengandalkan e-commerce. Digitalisasi menjadi kunci agar pedagang pasar tradisional dapat bersaing di era modern, sehingga Pasar Legi tidak hanya menjadi bangunan megah, tetapi juga pusat ekonomi yang berdaya saing.
“Kami perlu membekali pedagang dengan keterampilan digital, karena di pasar modern pun kini sudah banyak yang menjual sembako dan kebutuhan pokok secara daring,” pungkas Okta. [end/beq]






