Malang (beritajatim.com) – Belakangan ini ramai beredar di media sosial konten bernama ‘War Takjil’. Melalui konten tersebut masyarakat non muslim turut mencari takjil sore saat sore bulan Ramadhan. Kebiasaan tersebut tentu semakin membuat Ramadhan 1445 hijriah ini terasa begitu istimewa.
Dosen program studi Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rachmad K. Dwi Susilo, MA., Ph.D. dosen mengatakan bahwa takjil tidak berdimensi agama ritual, tetapi lebih ke kedermawanan sosial. Oleh sebab itu, kelompok non muslim juga bisa masuk dan tidak ada beban untuk menikmatinya.
War Takjil berbeda dengan kondisi peringatan hari besar keagamaan. Apalagi sering muncul pertanyaan dan pernyataan provokatif, misalnya terkait pengucapan selamat natal.
“Jika masalah ucapan hari raya natal ini tergantung individunya. Cukup hormati dan hargai perayaan agama lain dengan tidak mengecamnya,” nilainya.
Rachmad mengungkapkan, agar hari perayaan agama itu bisa sama-sama dinikmati oleh agama lain maka harus membuka ruang publik. Menururnya, semua agama bisa turut terlibat dalam suasana saling menghormati dan penuh kegembiraan.
“Namun, pemerintah memang butuh tindakan yang hati-hati agar tidak masuk wilayah keyakinan personal. Kemudian, perlu ide pemerintah untuk membangun inklusivitas,” ujarnya.

Pemerintah dapat menyediakan lembaga bernama rumah bersama antar umat beragama. Forum ini harus produktif, menghasilkan kerja kolektif yang inklusif.
Lembaga tersebut untuk semua kelompok dapat terlibat tanpa menyentuh aspek asasian atau aspek personal agama tersebut. Jika rutin bertemu maka tidak akan muncul kecemburuan, superioritas, dan merasa agama yang paling bagus.
“Jika sudah mengalami kelembagaan maka akan cair dengan sendirinya. Kalau kita tidak pernah bertemu dengan penganut agama lain dan memiliki tafsir tersendiri terhadap mereka bisa jadi mudah terprovokasi,” jelasnya.
Sejak kecil, anak jangan di sosialisasikan seakan agamanya lebih bagus dan dikomparasikan dengan agama lain. Jika dibandingkan maka bisa memicu permusuhan. Konstruksi sosial mengenai agama perlu dibangun sejak kecil sembari dimulai dari lembaga keluarga.
Dengan itu, dosen UMM ini berharap tidak akan ada keluarga yang mengalami disorganisasi atau fungsi yang hilang antar hubungan orang tua dengan anak. Contohnya, orang tua terlalu sibuk bekerja sehingga dititipkan pada orang lain.
“Jika seperti itu maka mereka tidak bisa mengontrol sang anak dengan baik. Padahal keluarga menjadi tempat pertama dalam mengajarkan toleransi,” ucapnya menutup. (dan/ted)






