Malang(beritajatim.com) – Momen Ramadan dijadikan oleh warga binaan pemasyarakatan (WBP) di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Malang untuk mendekatkan diri pada Sang Khalik.
Usai menggelar ibadah Tarawih berjamaah mereka melanjutkan dengan tadarus Al-Quran di Masjid At-Taubah selama Ramadan berlangsung.
Tingginya animo WBP membuat pelaksanaan kegiatan dilakukan secara bergilir per blok hunian untuk menjaga ketertiban dan kapasitas masjid tetap terkendali. Bagi blok yang belum mendapatkan giliran menggunakan masjid, warga binaan tetap melaksanakan salat Tarawih dan tadarus di blok masing-masing dengan pengawasan petugas.
Kepala Lapas Kelas I Malang, Teguh Pamuji mengatakan skema ini dilakukan untuk memastikan seluruh warga binaan tetap dapat menjalankan ibadah secara optimal tanpa mengabaikan aspek keamanan. Suasana religius terasa merata di setiap sudut lapas, baik di masjid maupun di lingkungan blok hunian selama Ramadan berlangsung.
Teguh Pamuji juga rutin hadir dan memberikan penguatan langsung kepada warga binaan. Teguh menyebut bahwa Ramadan adalah momentum untuk memperbaiki kualitas hubungan dengan Allah SWT sekaligus membentuk karakter yang lebih baik.
“Saya mengajak seluruh warga binaan untuk terus istiqamah menjalankan ibadah, baik yang wajib seperti salat lima waktu dan puasa maupun yang sunah seperti Tarawih dan tadarus,” ujar Teguh, Minggu, (22/2/2026).
Teguh mengatakan konsistensi dalam ibadah akan melatih kedisiplinan, kesabaran, serta pengendalian diri. Dia berharap, nilai-nilai tersebut dapat tertanam kuat dan menjadi bekal WBP saat kembali ke tengah masyarakat.
“Saya berharap kegiatan ini mampu menguatkan keteguhan hati dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadan. Serta menjadikan masa pidana bukan sebagai penghambat untuk terus mendekatkan hati kepada sang Pencipta,” kata Teguh.
Di luar tembok lapas, kegiatan serupa juga berlangsung di Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Lapas Malang yang berada di Ngajum, Kabupaten Malang. Warga binaan di SAE melaksanakan Tarawih dan tadarus di musala setempat dengan suasana yang khas.
Pemandangan alam yang indah berpadu dengan hawa dingin pegunungan menghadirkan nuansa malam yang syahdu. Lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema lembut, menciptakan atmosfer religius yang hidup dan menenangkan. Pembinaan spiritual di SAE berjalan beriringan dengan program kemandirian yang selama ini dilaksanakan.
Usai pelaksanaan tadarus, baik di dalam lapas maupun di SAE Ngajum, seluruh warga binaan mengikuti apel malam. Petugas melakukan cek fisik serta penghitungan jumlah penghuni sebagai bagian dari prosedur pengamanan yang wajib dilaksanakan.
Kegiatan berlangsung tertib dan kondusif sesuai standar operasional yang berlaku. Sinergi antara petugas pembinaan dengan pengamanan menjadi prioritas selama Ramadan.
Kepala Kesatuan Pengamanan Lapas (Ka KPLP) Lapas Kelas I Malang, Eksa Rahnuzulian mengaku telah membentuk satuan petugas piket malam tambahan untuk membantu pengawasan kegiatan ibadah selama Ramadan. Tujuannya, agar suasana ibadah tetap terjaga khusyuk tanpa mengesampingkan aspek keamanan dan ketertiban.
“Petugas tambahan ini akan membantu pengawasan dan mengawal kegiatan Tarawih dan tadarus hingag selesai, bahkan sekaligus mengawasi pembagian makanan yang dilaksanakan menjelang waktu sahur,” ujar Eksa. (luc/ted)






