Banyuwangi (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi patut bangga dan bersyukur atas raihan piala dan plakat Adipura.
Bahkan kebanggaan itu diungkapkan dengan sebuah pesta syukur di Pendopo Sabha Swagata Blambangan, Banyuwangi.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengundang hadirkan ratusan pesapon alias petugas kebersihan untuk mengucap syukur. Ipuk mengajak mereka makan bersama dalam rangka merayakan penghargaan yang menjadi perlambang supremasi kebersihan kota dan lingkungan hidup.
‘Penghargaan ini sejatinya bukan untuk saya atau para pejabat ini, tapi ini untuk bapak ibu sekalian yang telah berjibaku setiap waktu mengatasi persampahan di Banyuwangi,” ungkap Bupati Ipuk.
Ipuk menyebut, pesapon salah satu yang memiliki dedikasi tinggi atas keberhasilan Banyuwangi meraih Adipura. Mereka garda terdepan dalam penanganan sampah.
“Terima kasih atas dedikasi bapak/ ibu semua. Mari kita terus kampanyekan gaya hidup bersih, tidak buang sampah sembarangan. Sehingga beban kerja bapak/ ibu sekalian bisa berkurang,” katanya.
Namun, Ipuk menilai pengelolaan sampah di Banyuwangi tak sekedar banyaknya jumlah petugas. Akan tetapi, merancang pengelolaan sampah itu mulai hulu hingga ke hilir.
“Penilaian Adipura itu tak sebatas pada kebersihan yang di depan mata saja. Tapi, bagaimana tata kelolanya, upaya untuk menguranginya, hingga keterlibatan masyarakat,” ujarnya.
Berdasarkan data 2023 lalu, Kabupaten Banyuwangi mencapai pengurangan sampah sebesar 92,260.89 ton/tahun atau sekitar 30.22 persen.
“Sementara ini, baru ada 19 TPS3R (Tempat Pengumpulan Sampah Reuse, Reduce, Recycle) yang ada di Banyuwangi. Ini ke depannya akan terus ditingkatkan,” imbuhnya.
Meski demikian, adanya TPS3R itu, Banyuwangi bisa mendapatkan Plakat Adipura. Penghargaan ini diberikan atas pengelolaan TPS3R Tembokrejo, Muncar.
Di tempat ini mampu mengelola sampah sebanyak 12-25 ton/hari dengan hanya menyisakan residu ke TPA hanya 2 ton/hari.
“TPS3R ini juga membuka lapangan pekerjaan baru. Tak kurang dari 40 pekerja yang terlibat di bawah pengelolaan BUMDESMA,” ungkap Ipuk.
Penghargaan Adipura juga menjadi bagian kebahagiaan dari para pesapon. Tak rugi, kerja keras mereka senilai dengan apa yang didapat kali ini.
“Saya bangga Banyuwangi bisa kembali meraih Adipura. Tidak sia-sia kita nyapu tiap hari,” ungkap Saiful, salah seorang pesapon yang bertugas di sekitar lampu merah Lateng.
Begitu juga Naimah yang perlu diapresiasi. Dia justru tak bosan memberi pesan kepada warga untuk bergaya hidup bersih.
“Jangan buang sampah sembarangan,” katanya. (rin/ted)






