Surabaya (beritajatim.com) – Peternak sapi perlu waspada, pasalnya ada puluhan sapi di Mojokerto terjangkit Lumpy Skin Disease (LSD). Lantas apa itu penyakit LSD? dan bagaimana cara mencegah sekaligus mengatasinya?
LSD merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus dari golongan Poxviridae. Di mana umumnya penyakit ini disebabkan oleh gigitan serangga, seperti nyamuk dan lalat. Sapi yang terkena virus tersebut pun dapat dengan mudah menyebarkannya pada sapi lainnya yang masih dalam lingkup atau kandang yang sama.
Sapi atau kerbau yang terjangkit LSD, biasanya ditandai dengan munculnya benjolan di bagian kulit area leher, punggung, hingga perut. Selain itu, biasanya hewan ternak akan merasa kehilangan napsu makan, demam, lesu, serta menurunnya produksi susu.
Namun, hal ini tidak serta merta terjadi usai sapi digigit serangga. Melainkan ada periode inkubasi sekitar 5-14 hari sebelum muncul gejala tersebut. Sehingga untuk mencegah terjadinya penyakit ini, para peternak perlu melakukan pencegahan di antaranya dengan memperhatikan kondisi kandang dan area di sekitarnya. Pastikan agar kandang tetap bersih.
Tidak lupa juga untuk melakukan pengendalian secara langsung pada serangga. Misalnya dengan melakukan penyemprotan insektisida secara intens. Selain itu, perlunya memperhatikan asupan makanan dan minuman hingga lakukan pengecekan kesehatan secara berkala.
BACA JUGA: Wabah Leptospirosis Jangkit Ratusan Warga Jawa Timur, Ini Gejala hingga Cara Atasinya
Adanya penyekatan atau pemberian jarak antara sapi mungkin juga perlu dilakukan. Agar jika terdapat sapi yang terjangkit, tidak akan dengan mudah menularkan kepada sapi lainnya.
Namun, apabila hewan ternak terlanjur terjangkit LSD, maka sebaiknya para peternak segera hubungi pihak puskesmas atau dokter hewan yang dapat menangani hal tersebut. Umumnya untuk menanggulangi penyakit ini dilakukan beberapa cara, salah satunya vaksinasi.
Vaksinasi merupakan cara yang efektif untuk mencegah penyebaran LSD. Biasanya sapi yang belum sempat terjangkit yang disuntik vaksin. Namun, bisa juga sapi yang sudah terjangkit tetapi masih dalam masa inkubasi.
Sedangkan sapi yang telah terjangkit akan harus segera dikarantina atau dipisahkan dari sapi-sapi lainnya. Hal ini tentu untuk menghindari penularan pada hewan ternak lain yang masih sehat. Lantas kemudian diberikan obat untuk mengurangi demam hingga nyeri pada kulit. Pengobatan ini berguna untuk mempercepat pemulihan sekaligus meningkatkan daya tahan tubuhnya. (fyi/nap)






