Iklan Banner Sukun
Ragam

Tips Jualan, 6 Penyebab Utama Produk Tidak Laku

Ilustrasi seorang yang stress karena jualannya tidak laku. (Pexels, Rodnae)

Surabaya (beritajatim.com) – Kian hari perkembangan dunia bisnis melaju pesat. Hal ini mengakibatkan persaingan bisnis yang ketat seperti saat ini memaksa pelaku bisnis untuk meluncurkan dan mengembangkan produk-produk agar bisa bersaing di pasaran. Apalagi mengenai fakta bahwa kesuksesan dari target produk yang diluncurkan akan sangat mempengaruhi kinerja dan keuangan perusahaan.

Namun untuk mencapai target itu semua tidaklah mudah. Tulisan ini bukan bermaksud menakut-nakuti, yah. Karena jika kita tidak cukup persiapan dalam merencanakan peluncuran dan penjualan produk, kegagalan bisa menjadi kemungkinan terbesar seorang pebisnis.

Mari kita ketahui terlebih dahulu, apa itu kegagalan produk dalam berbisnis?

Kegagalan produk terjadi apabila produk tersebut tidak bisa bersaing dan bertahan di pasaran. Ketika suatu produk tidak berhasil memulihkan biaya dan jumlah uang yang digunakan untuk pemasarannya, maka produk tersebut dikatakan gagal besar.

Akibatnya pelaku usaha, dalam hal ini bisa berbentuk perorangan, pengusaha mikro maupun skala perusahaan besar akan menarik produk tersebut. Sehingga berakhir mengalami kerugian, baik dalam hal keuangan, waktu, dan energi.

Untuk itu kita harus mengetahui apa saja faktor yang membuat sebuah produk tersebut gagal terjual dengan menganalisis kegagalan produk. Tujuan utamanya adalah untuk belajar dari kegagalan produk sehingga pengembangan dan implementasi produk akan lebih berhasil di masa depan.

6 Penyebab Utama Produk Tidak Laku Terjual

Berikut ini enam penyebab utama mengapa suatu produk tidak laku terjual. Simak dan perhatikan agar terhindar dari kegagalan produk.

1. Menentukan pemasaran produk yang salah

Pemasaran atau marketing adalah langkah yang penting agar konsumen dapat mengetahui eksistensi produk. Hasil dari penentuan strategi pemasaran yang bagus memungkinkan terpilihnya produk dalam list belanjaan akan semakin besar. Begitupun sebaliknya.

Maka dari itu sangat penting untuk menargetkan penjualan produk kepada orang yang tepat dan menakar seberapa ukuran potensi pasar. Namun, sayangnya kesalahan pebisnis pemula dalam upaya menganalisis konsumen biasanya menganggap bahwa target pasar selalu memiliki potensi yang besar. Padahal tidak selamanya demikian. Kondisi pasar itu selalu dinamis, dalam prakteknya banyak variabel yang dapat menjadikan potensi pasar mengecil.

Menurut sebuah firma riset pasar terkemuka yang ada di Amerika, yang diambil dari jurnal bisnis Harvard, sekitar 75% produk langsung kepada konsumen dan produk ritel gagal menghasilkan bahkan 7,5 juta dolar selama tahun pertama peluncurannya.

Jika kita melihat dari permukaan tentu produk-produk tersebut memiliki pangsa pasar yang sangat potensial. Terutama produk konsumsi keluarga sehari-hari di Amerika. Lalu, mengapa produk itu tetap dinilai gagal?

Konsultan Jack Trout telah menemukan bahwa keluarga Amerika, rata-rata, berulang kali membeli 150 barang yang sama. Barang tersebut merupakan 85% dari kebutuhan rumah tangga mereka. Kesetiaan konsumen pada produk lama semakin diperkuat jika:
produk baru yang ditawarkan memiliki ciri-ciri yang sama persis dengan produk yang sudah tersedia. Sehingga semakin membuat sebuah produk baru akan sulit untuk bersaing dengan produk yang sudah lama.
produk baru tidak begitu memahami keinginan dan kebutuhan target pasar. Sehingga konsumen juga enggan beralih produk.

Jack Trout juga membeberkan lebih dari 70 produk baru pada tahun 2019 hingga 2020 bahkan yang memiliki kesan paling bagus sekalipun. Lebih dari selusin di antaranya sudah keluar dari peredaran pasar pada tahun berikutnya.

2. Gagal dalam mengelola keuangan

Melansir U.S Bank, Jessie Hargen mengatakan bahwa sebanyak 82% bisnis gagal karena buruknya manajemen keuangan. Dari angka persentase ini sangat lumayan mengingat banyaknya peluncuran produk baru setiap tahunnya.

Dikutip SCORE (Counselors to America’s Small Business) alasan bisnis kecil gagal bahkan ketika baru memulai sebagian besar karena pengelolaan arus kas. Masalah ini mencakup manajemen keuangan yang buruk dan pemahaman yang buruk tentang arus kas, memulai bisnis dengan modal yang terlalu kecil, dan kurangnya perencanaan keuangan untuk mengembangkan produk jangka panjang.

Berikut faktor-faktor yang lebih rinci dapat dilihat dalam tabel berikut.

Insert tabel:

Melihat data di atas tentu sangat penting bagi kita untuk memiliki laporan keuangan yang jelas dan akurat. Maka dari itu, salah analisis sedikit saja dapat menjadikan pengelolaan yang lain dalam penjualan produk menjadi terhambat atau bahkan terhenti.

3. Kesalahan penentuan ‘timing’

Timing itu penting! Bukan hanya untuk menghitung waktu perlombaan olahraga atau demi mencatat rekor tertentu. Sebagai seorang pebisnis kota juga harus mengetahui kapan waktu yang tepat untuk meluncurkan sebuah produk.

Salah satu penyumbang keberhasilan suatu produk adalah timing untuk merilisnya di waktu yang tepat. Jika sebuah produk diperkenalkan pada saat yang salah, maka dapat dipastikan menuju kegagalan. Setidaknya produk akan terseok-seok dalam mempertahankan eksistensinya dari gempuran produk lain yang lebih relevan.

Salah satu contoh terkenal mengenai kesalahan timing dalam peluncuran produk, seperti dikutip Bill Gates dalam salah satu seminarnya. Kegagalan Ford Edsel dalam pemasaran ketika Ford menginvestasikan 400 juta dolar ke dalam peluncuran mobil pada tahun 1957. Tetapi orang Amerika pada waktu itu benar-benar tidak membelinya. Mereka menginginkan kendaraan yang lebih kecil dan lebih ekonomis.

Jika peluncuran produk mobil dilakukan beberapa tahun sesudah atau sebelum tahun itu, kemungkinan penjualan mobil akan lebih sukses. Namun juga beberapa pakar menurut Association Content menyalahkan pada keputusan Ford yang tidak benar-benar membuat inovasi terbaru pada model mobil yang diinginkan pasar.

4. Kualitas produk yang kurang bersaing

Produk dengan kualitas rendah akan selalu berjuang keras untuk eksis dan bertahan di pasaran. Hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa setiap saat produk yang berkualitas rendah akan tergantikan dengan produk lain yang memiliki kualitas lebih baik dengan harga yang sama atau bahkan lebih murah.

Meluncurkan produk dengan kualitas yang buruk hanya akan menghambat perkembangan semua aspek dalam management perusahaan. Mungkin kita akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar dengan menekan biaya produksi, akan tetapi keberuntungan itu hanya akan berlangsung singkat.

Kualitas produk adalah sebuah identitas perusahaan, dilansir Kotler dan Amstrong, dalam jurnal product quality, kualitas produk merupakan senjata strategi potensial untuk mengalahkan pesaing. Maksudnya kualitas yang diperhatikan seperti kelebihan dalam ketahanan, handal, ketepatan, dan kemudahan dalam penggunaan akan membuat produk dapat melekat dalam ingatan konsumen.

5. Gagal dalam pengelolaan Manajemen perusahaan

Dalam sebuah organisasi, khususnya sebuah perusahaan diperlukan sebuah sistem yang mengatur tugas dari setiap orang yang berada di dalamnya. Seperti kegiatan mengelola, melakukan koordinasi dan mengorganisasi kegiatan bisnis. Sistem tersebut disebut sebagai manajemen perusahaan.

Cakupannya bisa meliputi produksi, mengelola keuangan, aset, hingga melibatkan inovasi kreatif dan strategi pemasaran.

Sebagai pelaku usaha, kamu harus menciptakan sistem management yang baik agar semua kegiatan penjualan produk dapat sukses terlaksana. Biasanya ada beberapa persyaratan bagi perusahaan untuk mencapai kondisi Good Corporate Governance (GCG).

Jika pengelolaan management perusahaan gagal. Maka akan menyebabkan banyak unsur dalam penyelesaian produk terganggu. Seperti:
– pengendalian dan keseimbangan (check and balances) yang tidak terkontrol
– penyalahgunaan sumber daya perusahaan.
– menghambat pertumbuhan perusahaan.
– management karyawan yang tidak tepat, dll.

6. Kebijakan pemerintah

Pengaruh pemerintah terhadap bisnis produk dapat melalui sejumlah cara, yakni:

– Kebijakan Pajak, seperti pajak pribadi, pajak perusahaan dan pajak pertambahan nilai
– Peraturan mengenai izin usaha
– Peraturan seperti undang-undang antimonopoli, perlindungan konsumen, keselamatan lingkungan, dan keselamatan kerja
– Kebijakan ekonomi seperti subsidi, upah minimum, pajak, belanja negara, jumlah nilai tukar, dan suku bunga bank
– Kebijakan internasional seperti perjanjian perdagangan, kebijakan impor-ekspor, dan blok perdagangan.

Beragam kebijakan dan peraturan di atas sedikit besarnya akan berdampak kepada penjualan produk. Tentu hal ini tergantung kepada jenis produk apa dan bagaimana alur pengelolaan management perusahaan yang kamu pimpin.

Ingatlah bahwa aspek ini juga bisa menjadi dua mata pisau dalam bisnis. Jika kita bisa mengikuti dan memanfaatkan kebijakan dengan baik maka perkembangan produk bahkan perusahaan akan berjalan dengan signifikan. Begitupun sebaliknya, jika kita tidak bisa mengikuti dan justru terperosok dalam masalah pelanggaran kebijakan atau perizinan maka bisnis bisa dengan mudah terhenti.

Pertanyaan besarnya setelah mengetahui sebab umum produk yang tidak laku, adalah….

Bagaimana cara mengatasinya?

Memang yang terpenting dari adanya sebuah masalah adalah pencairan solusi. Tidak cukup dengan mengetahui penyebabnya. Kita juga harus paham bagaimana langkah kedepannya.

Beban pengembangan produk biasanya dipikul oleh Product Manager untuk memastikan bahwa kesalahan yang serupa tidak akan terulang kembali. Atau apapun lah sebutannya bagi pelaku bisnis. Owner bahkan staf admin terkadang di beberapa perusahaan juga merangkap jabatan ini.

Blusukan

Langkah pertama untuk mencegah dan mengatasi kegagalan produk adalah dengan ‘blusukan’. Lewat blusukan kita akan mengetahui keadaan masyarakat secara langsung dan melihat situasi yang terjadi di lapangan untuk mendapatkan inspirasi dan aspirasi.

Kita dituntut untuk mampu mencium bau masalah (pain points) yang terjadi di lapangan kemudian meresapinya. Blusukan ini dapat dilakukan dengan mencari minimal 5 responden yang sesuai dengan target pasar yang sudah ditentukan. Usahakan ketika sudah terjun langsung pada target pasar, sebaiknya kamu sudah mempersiapkan beberapa pertanyaan yang mengacu kepada
ide produk.

Kemudian catat dan pahami apa saja yang diinginkan oleh responden tadi. Kemudian pertimbangkan info yang kamu dapatkan itu untuk mengembangkan produk sebelum dirilis agar semakin matang.

Lakukan Minimum Viable Product (MVP)

Untuk mengetahui sebuah produk sudah sesuai dengan keinginan pasar ataukah belum, kamu harus mengetesnya terlebih dahulu. MVP adalah standar minimum dari kelayakan produk atau inovasi. Dalam artian sebuah produk memiliki outcome hanya satu atau dua fitur untuk membuktikan ide produk layak atau tidak untuk dipasarkan.

Meskipun MVP biasanya dipakai pada produk startup namun ide dasarnya cocok digunakan untuk semua produk yang masih dalam tahap pengembangan dan uji coba pasar.

Apalagi jika perusahaan memiliki risiko yang besar ketika baru meluncurkan produk pertamanya. Produk itu belum tentu terjual dan diterima masyarakat meskipun telah memakan banyak biaya untuk memproduksinya.

Contoh sederhana dari praktek MVP adalah:

Katakanlah restoran waralaba KFC ingin menguji coba menu baru berupa burger. Karena KFC identik dengan ayam goreng maka burger menjadi menu yang belum tentu diterima pelanggan setianya.
Maka pertanyaan paling umum yang akan muncul akan seperti ‘apakah burger ini akan laku terjual?’

Untuk mengetesnya bisa dengan cara memperkenalkan menu burger sebagai menu tambahan pendamping ayam. Tidak perlu dibuat sungguhan. Perkenalan ini bisa hanya dengan memberikan Informasi pada list menu yang diletakkan di atas meja.

Jika ada pelanggan yang memesan menu tambahan ini, pihak KFC bisa mengatakan “Menu tambahan burger habis. Sebagai gantinya kami menyiapkan kentang goreng.”

Dengan itu mereka bisa mengamati respon pelanggan dengan adanya menu burger tersebut. Jika respon pelanggan bagus maka menu burger bisa menjadi list produk yang dikeluarkan untuk selanjutnya.

Langkah terakhir adalah melakukan validasi dan eksekusi produk secara profesional

Pada akhirnya ide dan asumsi produk harus berakhir pada tahap Validated Product Backlog. Kemudian secara bertahap diwujudkan dengan management produk yang profesional.

Penutup:

Kesimpulan dari artikel di atas adalah bahwa keputusan untuk menjadi seorang pebisnis tentunya tidak lepas dari bayang-bayang resiko seperti kegagalan dan kerugian materil. Namun resiko tersebut bukanlah serta merta terjadi karena dalam dunia bisnis persiapan yang matang menjadi modal utama untuk meraih kesuksesan. Penyebab utama kegagalan produk sekaligus cara mengatasinya yang telah dijelaskan di atas patutnya menjadi sumber informasi dan pacuan untuk menjadi pebisnis yang lebih baik lagi. (kai/ian)


Apa Reaksi Anda?

Komentar