Surabaya (beritajatim.com) – Hadits yang disabdakan oleh Rasulullah SAW tentang kemunculan mujaddid dalam umat Islam setiap seratus tahun sekali atau satu abad memiliki signifikansi penting dalam pemahaman agama dan perkembangan umat.
Hadits tersebut mengandung beberapa elemen penting yang telah diinterpretasikan oleh para ulama dan cendekiawan Islam.
Hadits ini berasal dari riwayat Abu Hurairah RA dan menyatakan bahwa Allah mengutus seseorang yang memperbarui ajaran agama Islam kepada umat setiap seratus tahun. Imam Ibnu Hajar al Asqalani, Adz Dzahabi, Ibnu Katsir, Al Munawi, An Nawawi, Ibnu Atsir Al Jazri, dan As Saharanfuri bersama-sama menafsirkan bahwa kata “مَنْ” (orang-orang) dalam hadits ini memiliki makna yang bersifat umum, mencakup baik perseorangan maupun kelompok. Ini berarti bahwa mujaddid yang dimaksud bisa saja individu tunggal atau kelompok.
Baca Juga: Lagi, PMII Tuban Bakal Geruduk Markas Polisi Tuntut Kapolres Tanggung Jawab
Pandangan Quraish Shihab, seorang cendekiawan muslim, menggarisbawahi pentingnya peran mujaddid dalam mereaktualisasi ajaran Islam. Ia menjelaskan bahwa perubahan dalam ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya lokal dapat menyebabkan interpretasi yang berbeda-beda terhadap ajaran agama.
Oleh karena itu, mujaddid berperan dalam memastikan bahwa ajaran Islam tetap murni dan sesuai dengan prinsip-prinsipnya.
Terkait identifikasi mujaddid pada tiap abad, pendekatan dan pandangan berbeda-beda. Ibnu Katsir dalam Kitab Dala’il an Nubuwwah, misalnya, merinci beberapa tokoh yang dianggap sebagai mujaddid dalam satu abad. Imam As Suyuthi juga menyebutkan nama-nama mujaddid dalam karyanya.
Sedangkan Nawab Shidiq Hasan Khan merinci mujaddid setiap tahun dan mencantumkan Imam Mahdi sebagai mujaddid terakhir yang akan membarui agama Islam.
Baca Juga: Kalah di Kandang Persebaya, Pelatih PSM Makasar Singgung Soal Wasit
Dalam keseluruhan, hadits ini menunjukkan pentingnya peran mujaddid dalam menjaga kemurnian dan aktualitas ajaran Islam. Namun, identifikasi siapa yang merupakan mujaddid pada setiap abadnya dapat bervariasi tergantung pada pandangan ulama dan cendekiawan yang berbeda.
Pemahaman ini memberi ruang untuk interpretasi dan penafsiran yang luas, sambil tetap mengingatkan umat akan pentingnya menjaga keaslian dan kebenaran ajaran agama. (fyi/ian)






