Tuban (beritajatim.com) – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Tuban akan menggelar aksi lanjutan di Mapolres Tuban menuntut tanggung jawab Kapolres Tuban.
Tuntutan tersebut berkaitan dengan dugaan pelecehan yang dilakukan oleh oknum polisi terhadap salah satu perempuan yang merupakan anggota PMII.
Rencananya, aksi lanjutan ini akan digelar Sabtu, 19 Agustus 2023 dengan titik aksi di depan Mapolres Tuban. Sebagaimana poster yang disebar, merupakan seruan aksi yang diintruksikan kepada seluruh kader PMII Tuban.
Baca Juga: Gus Miftah Doakan Denny Caknan dan Bella Bonita saat Hadir Dalam Resepsi Nikah
“PMII TUBAN BERGERAK. Rapatkan barisan di Markas Polres Tuban,” tulis dalam poster yang disebar tersebut, dijadwalkan berkumpul pada pukul 09.00 WIB.
Titik kumpul keberangkatan masa aksi berada di Graha Revolusi PC PMII Tuban. “Aksi menuntut tanggung jawab Kapolres Tuban dalam dugaan tindakan pelecehan seksual dan tindakan represif pada masa aksi demonstrasi,” lanjut tulisan dalam poster.
Aksi ini merupakan buntut panjang dari aksi sebelumnya di depan Kantor Pemkab dan Kantor DPRD Kabupaten Tuban yang menuai kericuhan dengan adanya dugaan pelecehan terhadap salah satu kader putri.
Baca Juga: Unik, Insan Cendekia Tuban Kibarkan Bendera HUT RI ke-78 di Pohon Siwalan
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, awal mula aksi tersebut bertujuan untuk memberikan raport merah Kepada Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky pada pada selasa (16/08), namun, aksi tersebut tidak ditemui oleh Bupati Tuban sehingga massa aksi berlanjut ke gedung DPRD Tuban.
Ketua PMII Cabang Tuban Abid Arrohman mengatakan, aksi di Pemkab Tuban berlangsung aman dan damai, namun saat dilanjutkan di gedung DPRD Tuban diwarnai kericuhan oleh aparat Kepolisian.
“Kami ini menyampaikan aspirasi tapi malah dihadang oleh aparat dan melakukan kekerasan,” ucap Abid Arrohman.
Karena aksi saling dorong tersebut berujung bersitegang dan diduga terjadi kekerasan serta pelecehan yang dilakukan aparat Kepolisian terhadap massa aksi.
“Kawan kita mengalami kekerasan oleh aparat kepolisian, tidak hanya didorong, tapi diseret dan ada juga yang mengalami pelecehan,” terang Abid Arrohman.
Ia juga sangat menyayangkan sikap anggota Kepolisian terhadap aksi masa pergerakan mahasiswa, menurutnya Kepolisian harus memberikan perlindungan, bukan malah bertindak represif.
Baca Juga: Anggota Alami Pelecehan Saat Demo, PMII Geruduk Polres Tuban
Sementara itu, salah satu massa aksi seorang perempuan berinisial F mengaku telah mengalami tindak pelecehan yang dilakukan oleh aparat Kepolisian, hingga membuat dirinya menangis.
“Saya gak bisa tahan nangis, kalau diseret – seret ya tidak apa tapi jangan dipegang bagian sensitif saya,” ujar F.
Tak hanya itu, F mengungkapkan bahwa dirinya diseret, lalu bajunya terbuka terlihat bagian tubuhnya dan jilbab yang dipakainya terlepas. “Jelas – jelas dia polisi seorang laki – laki kenapa memegang bagian terlarang saya menggunakan telapak tangannya,” tanya si F.
Kemudian, salah satu aksi massa yang lain juga mengaku bahwa diseret dan ditendang oleh aparat hingga mengalami luka. “Saya akan melakukan visum agar bisa dibuat bukti,” paparnya.
Baca Juga: Diduga Alami Kekerasan, Demo PMII Tuban Berbuntut Panjang
Akibat kejadian itu, Kapolres Tuban AKBP Suryono menanggapi kejadian tersebut akibat senggolan yang aslinya terjatuh dan wajar saat melakukan demo.
“Kalau dorongan itu kan wajar ya karena akan timbul aksi yang tidak sesuai ketentuan,” tutur AKBP Suryono.
Namun, pihaknya menegaskan apabila terdapat aksi kekerasan dan dapat dibuktikan maka pihaknya akan melakukan tindak lanjut. “Jika dia mau melaporkan ya silakan,” pungkasnya. [Ayu/ian]






