Blitar (beritajatim.com) – Pendopo Agung Ronggo Hadi Negoro atau yang akrab disebut RHN merupakan istana bagi setiap pemimpin Kabupaten Blitar. Pendopo ini dibangun pada tahun 1875 lalu oleh Bupati Blitar kedua yakni KPH. Warsoekoesomo.
Di usianya yang mencapai 148 tahun, pendopo RHN masih menjadi tempat keramat bagi setiap pemimpin Kabupaten Blitar. Selain menjadi tempat singgah sang Bupati, Pendopo Agung Ronggo Hadi Negoro juga menyimpan sejumlah benda kramat dan pusaka.
Keberadaan Pendopo Agung Ronggo Hadinegoro tidak lepas dari sejarah pemerintahan Kabupaten Blitar pada masa Belanda. Sebelum Tahun 1848 pusat pemerintahan Kabupaten Blitar berada di pinggir Sungai Pakunden.
Kemudian Bupati Blitar yang pertama R.M. Aryo Ronggo Hadiengoro memindahkannya ke wilayah Kota Blitar saat ini karena pusat pemerintahan sebelumnya terkena lahar letusan Gunung Kelud. Pembangunan pendopo ini bersamaan dengan pembangunan alun-alun yakni kurun waktu 1875, yang saat itu Bupati Blitar dijabat oleh KPH.Warsoekoesomo.
“Pendopo ini semacam istana atau rumah dinas bupati Blitar jadi pendopo ini tidak tergantikan, ini punya sejarah yang sangat kuat seingat saya ini dibangun oleh Warsoekoesomo jadi memang semacam istananya bupati gitulah,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Blitar, Suhendro Winarso, Sabtu (5/8/2023).
Bangunan pendopo RHN ini terdiri dari bangunan utama (main building dengan gaya Indische empire style) yang saat ini berfungsi sebagai rumah dinas Bupati Blitar. Ruang utama ini disebut juga dengan pringgitan njero.
BACA JUGA:
Arca Agastya Pindah Sendiri ke Pendopo RHN Blitar?
Pada bagian pilar pringgitan ruang utama ini, terdapat prasasti prestasi yang pernah diukir oleh masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Blitar. Disebelah timur ruang kerja Bupati dan sebelah barat tempat penyimpanan pusaka. Di ruang pusaka inilah tersimpan pusaka tetungguling kadipaten yang disebut dengan Cemethi Samandiman.
Ruang utama ini juga menjadi saksi bisu dahsyatnya letusan gunung Kelud. Pada bagian kamar hingga sekarang masih terlihat jelas bekas tumpukan abu vulkanik letusan gunung Kelud.
Rendaman abu vulkanik ini pun cukup tebal dan tinggi. Meski begitu Pendopo RHN masih kokoh berdiri hingga sekarang.
“Bisa di lihat di bagian kamar samping itu masih ada bekas abu vulkanik yang cukup tinggi, jadi bisa dibayangkan bila di sini saja setinggi itu, bagaimana dengan Kecamatan Nglegok misalnya,” ujar Hendro.
Pada bagian depan bangunan utama ada 4 area dwarapala (2 berwujud sywa dan 2 berwujud singa) dan 1 prasasti Balitar I yang berisikan tentang titah Prabu Jayanegara menganugerahkan Blitar sebagai tanah perdikan. Sedangkan di halaman depan ada patung Sudanco Supriyadi sang pahlawan PETA. Bangunan keempat yakni gedung bunder. Ini sebagai tempat pengungsian bupati dan keluarganya ketika ada lahar Gunung Kelud.
BACA JUGA:
Wabup Tak Hadir di Peringatan Hari Jadi Blitar, Kode?
“Setelah itu kan Belanda masuk nih, nah Belanda itu sejarahnya punya kepentingan besar terhadap Blitar terutama di perkebunan, tapi Belanda itu pinter tanah perkebunan itu pasti cari kemiringan tanah 45 derajat ke atas, jadi Belanda perlu mencari pemukiman yang aman itu titiknya disini. Jadi disini dulu Kota Praja gitulah,” terangnya.
Selain itu ada bangunan unit dua di halaman beranda belakang menghadap selatan. Pada masa lalu digunakan sebagai tempat abdi dalem dan para tamu Bupati.
Sedangkan pada bangunan ketiga, berada disamping timur dan kanan sebagai tempat para ajudan, dahulu sebagai tempat pengawal pribadi keluarga Bupati.
Seiring berkembangnya zaman Pendopo RHN bukan hanya jadi istana Bupati. Masyarakat umum pun kini bisa masuk melihat-lihat pendopo RHN.
Pendopo Agung Ronggo Hadi Negero ini pun kini merupakan jadi salah satu situs cagar budaya yang ada di wilayah Kabupaten Blitar. [owi/beq]






