Surabaya (beritajatim.com) – Penganiayaan yang dialami David Latumahina oleh Dandy mengakibatkan ia mengalami koma dan harus dirawat intensif di rumah sakit.
Dalam perkembangan kondisi medis David, Anggota Bidang Cyber dan Media PP GP Ansor sekaligus rekan ayah korban, Ahmad Taufiq menjelaskan, bahwa David didiagnosis terkena diffuse axonal injury. Lalu, apa itu diffuse axonal injury?
Melansir situs ncbi, yang dipublikasikan oleh StatPearls Publishing yang mana berafiliasi dengan Columbia University at Bassett Medical Center, NY, USA.
Diffuse axonal injury (DAI) adalah jenis cedera otak traumatis (TBI) yang diakibatkan oleh cedera tumpul pada otak. Di banyak negara, cedera otak traumatis merupakan penyebab utama kematian dan kecacatan di kalangan anak-anak dan dewasa muda.
Cedera otak traumatis diklasifikasikan sebagai ringan, sedang, dan berat berdasarkan skala koma Glasgow (GCS). Skala ini dipakai untuk mengetahui tingkat kesadaran, terutama pada orang yang mengalami cedera kepala.
[berita-terkait number=”5″ tag=”penganiayaan”]
Pasien cedera otak traumatis dengan GCS 13 sampai 15 tergolong ringan, yang termasuk mayoritas pasien cedera otak traumatis.
Pasien dengan GCS 9 hingga 12 dianggap memiliki cedera otak traumatis sedang, sedangkan pasien dengan GCS di bawah delapan diklasifikasikan memiliki cedera otak traumatis berat.
GCS mengukur tiga fungsi berikut, yaitu mata (kemampuan membuka mata), suara (kemampuan bicara), dan gerakan tubuh. Tiga aspek ini dinilai melalui pengamatan, kemudian dijumlahkan untuk mendapatkan angka GCS.
Cedera aksonal difus (DAI) terutama memengaruhi saluran materi putih di otak. Secara klinis, pasien dengan DAI dapat mengalami spektrum disfungsi neurologis. Keadaan ini berkisar dari tidak signifikan secara klinis hingga keadaan koma. Namun, sebagian besar pasien dengan DAI diidentifikasi parah dan umumnya memiliki GCS kurang dari 8.
Penyebab Umum Seseorang Mengalami Diffuse Axonal Injury
Etiologi yang paling umum dari cedera aksonal difus melibatkan kecelakaan kendaraan bermotor kecepatan tinggi. Maksudnya mekanisme kecelakaan ini melibatkan gerakan percepatan dan perlambatan yang mengarah pada gaya geser ke saluran materi putih otak.
Hal ini menyebabkan kerusakan mikroskopis dan kasar pada akson di otak yang terletak oada persimpangan materi abu-abu dan putih. Cedera aksonal difus umumnya mempengaruhi saluran materi putih yang berhubungan dengan korpus kalosum dan batang otak.
Diperkirakan sekitar 10% dari semua pasien dengan cedera otak berat yang dirawat di rumah sakit akan mengalami DAI pada tingkat tertentu. Sayangnya, pasien dengan diagnosis DAI diperkirakan sekitar 25% akan mengakibatkan kematian.
Diagnosis Diffuse Axonal Injury dan Tandanya
DAI adalah diagnosis klinis. Biasanya, diagnosis DAI terjadi pada pasien dengan GCS kurang dari 8, selama lebih dari enam jam.
Presentasi klinis pasien dengan cedera aksonal difus berhubungan dengan tingkat keparahan cedera aksonal difus. Misalnya, pasien dengan cedera aksonal difus ringan hadir dengan tanda dan gejala yang mencerminkan gangguan gegar otak.
Gejala yang paling sering terjadi pada pasien adalah sakit kepala. Gejala pasca-gegar otak lainnya dapat berupa pusing, mual, muntah, dan kelelahan. Namun, pasien dengan cedera aksonal difus yang parah juga dapat mengalami penurunan kesadaran dan tetap dalam keadaan vegetatif yang persisten (koma) hingga kematian.
Demikianlah penjelasan singkat mengenai Diffuse Axonal Injury, yang dialami David Latumahina. Penjelasan singkat di atas berdasarkan sutus kesehatan ncbi, yang dipublikasikan oleh StatPearls Publishing yang mana berafiliasi dengan Columbia University at Bassett Medical Center, NY, USA. (kai/nap)






