Bojonegoro (beritajatim.com) – Komunitas Rabu Menonton berusaha membumikan film dengan cara screening dan diskusi film secara rutin. Screening film yang dilakukan tersebut juga diharapkan siklus film tidak hanya berhenti pada proses produksi, tetapi bisa menjadi tontonan dan diskusi bersama.
Pada kegiatan Rabu, 8 Februari 2023 lalu, Komunitas Rabu Menonton menyajikan dua film indie yang diproduksi oleh sutradara asal Kabupaten Bojonegoro. Adalah Wahyu Budianto sutradara film yang berjudul Nilai Luhur Ajaran Samin Bojonegoro dan Alfian C Guritno dengan judul filmnya Nahkoda: Berlayar Tak Ada Henti.
Tajuk screening film saat itu program pemutaran Pehagengsi: Tur Dalam Negeri di Regularia ke 7 yang berkolaborasi dengan Akart Creative dengan program Show Me bertempat di kedai Mbah Yi. “Bentuk kolaborasi itu memberikan wadah bagi pegiat film dan musik,” ujar Direktur Program Rabu Menonton, Tedjo, Senin (13/02/2023).
[berita-terkait number=”5″ tag=”film”]
Dalam screening film itu, pertunjukan musik diisi oleh Adam Wiguna seorang soloist yang menyuguhkan lagu bersama seorang rapper, Imam Padholi. Tak hanya musik yang menjadi penyajian utama dalam pagelaran tersebut. Penambahan video mapping sewaktu musik berirama juga membawa suasana baru dalam penampilan tiap musisi.
Sedangkan film yang diputar, selain menampilkan 2 film sutradara asal Bojonegoro juga 2 film yang berasal dari Yogyakarta. Film garapan Wahyu Budianto sebelumnya juga masuk dalam 10 kategori film terbaik Anti Corruption Film Festival yang diselenggarakan di Jakarta oleh KPK.
Film tersebut menyuarakan kejujuran dan bagaimana masyarakat Samin untuk menghadapi setiap permasalahan dengan tiap individu. Kedekatan antara Wahyu dengan film yang baru saja diproduksinya juga sangat erat kaitannya dengan profesinya sebagai fotografer.
Film kedua yang diproduksi oleh Alfian C Guritno dengan judul ‘Nahkoda: Berlayar Tak Ada Henti’ membicarakan mengenai kesejahteraan pelatih U-21 Arema, bagaimana hidupnya masih belum bisa tergantung oleh satu profesi saja dan lika liku yang dihadapi oleh pelatih tersebut.
Untuk diketahui, Program dari Pehagengsi: Tur Dalam Negeri merupakan program tur film yang telah disediakan oleh Pehagengsi dari 1 kota ke kota yang lain. Melihat potensi ini Pehagengsi ingin mengurai soal antara modal sosial dan kapital guna keberlanjutan aktifitas sinema dari yang paling dasar, komunitas.
Pemutaran ini menggunakan metode saweran (donasi sukarela) untuk kemudian dibagi antara Pehagengsi, Penyelenggara dan pemutar selanjutnya. [lus/kun]






