Bojonegoro (beritajatim.com) – Bantaran Sungai Bengawan Solo di Kelurahan Jetak, Kecamatan Bojonegoro, menyimpan kejutan yang dapat menambah kepingan sejarah manusia purba di Indonesia. Sebuah fosil rahang bawah yang diduga berasal dari Homo erectus ditemukan di kawasan tersebut dan kini tengah menjadi perhatian para peneliti.
Fosil itu pertama kali didata oleh Achmad Satria Utama, pendata Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) Wilayah Kerja Bakorwil II Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur yang juga merupakan Guru Sejaran SMAN 1 Dander. Temuan tersebut kemudian dilaporkan kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bojonegoro, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, serta Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jawa Timur untuk ditindaklanjuti.
Penemuan fosil manusia purba pertama di Bojonegoro ini bermula saat Deprian Agus Salim, atau akrab disapa Rian, menemukan benda tersebut di bantaran Bengawan Solo wilayah Kelurahan Jetak pada 20 Juni 2026. Menyadari nilai pentingnya, ia segera melaporkan temuannya kepada instansi terkait.
Langkah cepat itu mendapat apresiasi dari tim Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur. Pada Kamis (23/7/2026), dua ahli konservasi dan arkeologi, Nafi dan Indra, datang langsung ke Bojonegoro untuk melakukan pemeriksaan. Mereka didampingi perwakilan Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bojonegoro.
Hasil pemeriksaan awal menunjukkan fosil tersebut merupakan benda asli yang telah mengalami proses fosilisasi secara alami. “Struktur tulangnya telah tergantikan oleh mineral selama ratusan ribu tahun, menandakan spesimen itu berasal dari lapisan geologi purba di kawasan Bengawan Solo,” ujar Nafi, usai melakukan pendataan di Bojonegoro.
Secara anatomi, lanjut dia, fosil tersebut memiliki sejumlah ciri khas manusia purba. Rahangnya tebal dan kokoh, berbentuk melengkung menyerupai huruf U, dengan panjang sisi luar 16 cm, panjang sisi dalam 14 cm, ketebatan rahang 1,5 cm, dan tinggi rahang 2-3 cm. Bagian cabang vertikal rahang (ramus) patah akibat fraktur pascakematian akibat gerusan sungai.
Ciri lain rahang purba tersebut tidak memiliki tonjolan dagu seperti manusia modern. Tiga gigi geraham masih melekat kuat dengan tingkat keausan tinggi yang menunjukkan pemiliknya merupakan individu dewasa.
Karakter tersebut menjadi alasan awal mengapa fosil ini diduga berasal dari kelompok Homo erectus. Namun, identifikasi ilmiah secara pasti masih menunggu analisis lanjutan, seperti CT Scan dan pengujian laboratorium oleh tim paleoantropologi.
Bagi para peneliti, temuan ini memiliki arti penting. Selama ini, jejak Homo erectus di sepanjang Bengawan Solo lebih banyak ditemukan di kawasan Sangiran, Trinil, Sambungmacan, hingga Ngandong. Sementara wilayah hilir seperti Bojonegoro belum banyak menghasilkan bukti keberadaan manusia purba.
Jika hasil penelitian lanjutan menguatkan dugaan tersebut, fosil dari Jetak berpotensi menjadi bukti bahwa kawasan hilir Bengawan Solo juga pernah menjadi habitat manusia purba pada masa Pleistosen, sekaligus melengkapi peta persebaran Homo erectus di Pulau Jawa.
Saat ini, fosil disimpan dalam kondisi aman sambil menunggu proses penelitian lebih mendalam. Mengingat lokasi penemuan berada di bantaran sungai yang rawan erosi, para pendata juga mendorong agar spesimen tersebut segera memperoleh perlindungan sebagai benda cagar budaya. [tok/aje]






