Malang (beritajatim.com) – Sejak diluncurkan pada 2019, Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) telah menunjukkan performa gemilang, baik dari sisi pengguna maupun volume transaksi. Inovasi pembayaran digital ini bahkan mencatatkan laju pertumbuhan yang jauh melampaui kartu kredit dan debit.
“Kami tidak menyangka QRIS bisa berkembang secepat ini. Keberhasilan suatu sistem atau inovasi diukur dari kecepatan dalam memberikan solusi dan seberapa masif penggunaannya di masyarakat. Pertambahan jumlah pengguna QRIS yang sangat pesat ini menjadi bukti keberhasilannya,” ungkap Kepala Bank Indonesia Kantor Perwakilan (BI KPw) Jawa Timur, Ibrahim, saat Media Gathering BI Jawa Timur di Malang.
Ibrahim membandingkan akselerasi QRIS dengan perkembangan kartu kredit dan debit. Untuk mencapai 50 juta pengguna, kedua instrumen pembayaran konvensional itu membutuhkan waktu hingga 25 tahun. Sementara itu, data BI menunjukkan bahwa per Maret 2025, jumlah pengguna QRIS telah mencapai 56,28 juta, dengan 38,1 juta merchant dan 2,3 juta perangkat EDC.
“Jika suatu inovasi dirasakan sangat dibutuhkan, maka daya tariknya akan jauh lebih cepat. Oleh karena itu, BI selalu proaktif dalam memberikan informasi terkait berbagai program dan inovasi yang kami jalankan,” imbuhnya.
Dorongan Generasi Muda dan UMKM, QRIS Menuju Konektivitas Global
Pada kesempatan yang sama, Deputi Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia (BI) KPw Jawa Timur, Himawan Kusprianto, menjelaskan bahwa perkembangan QRIS yang begitu akseleratif sejak pandemi hingga saat ini tak lepas dari kemudahan penggunaan, partisipasi aktif generasi Z dalam ekonomi digital, serta penetrasi ponsel yang semakin masif.
Himawan menyoroti peran strategis generasi Z sebagai pengguna potensial. Jumlah mereka mencapai 75,49 juta jiwa atau sekitar 27,94% dari total populasi. Angka ini disusul oleh generasi milenial (69,9 juta jiwa atau 25,87%), generasi X (59,12 juta jiwa atau 21,88%), generasi baby boomer (31,23 juta jiwa atau 11,56%), dan generasi alpha (29,9 juta jiwa atau 10,88%).
“QRIS juga menjadi fondasi digital yang krusial, terutama bagi segmen UMKM yang saat ini mendominasi dengan porsi 93% atau 38,1 juta pengguna hingga Maret 2025,” kata Himawan. Dari total UMKM pengguna QRIS, 57,52% di antaranya adalah usaha mikro, 29,59% usaha kecil, 5,89% usaha menengah, dan 3,37% usaha besar.
Keunggulan QRIS tidak hanya dirasakan oleh warga Indonesia, tetapi juga telah dimanfaatkan oleh warga negara asing melalui layanan pembayaran lintas batas (cross border payment). “Peningkatan efisiensi layanan pembayaran lintas batas adalah komitmen internasional, yang digaungkan mulai dari forum G20, ASEAN, termasuk Indonesia, dan tertuang dalam Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2030,” jelasnya.
Melalui skema Regional Payment Connectivity, QRIS telah terhubung dengan sistem pembayaran di Thailand, Malaysia, dan Singapura. Ke depan, kerja sama ini direncanakan akan diperluas ke India, Korea Selatan, Jepang, dan Uni Emirat Arab, menegaskan posisi QRIS sebagai instrumen pembayaran digital yang terus berinovasi dan menjangkau pasar global.[rea]






