Lumajang (beritajatim.com) – Kerusakan lahan pertanian kembali dialami warga Desa Sumberwuluh setelah Gunung Semeru memuntahkan Awan Panas Guguran pada Rabu sore. Peristiwa ini membuat kawasan pertanian menjadi salah satu sektor yang paling terdampak.
Warga di Dusun Kajar Kuning menyebut kondisi ladang berubah drastis hanya dalam hitungan jam. Tanaman yang biasanya tumbuh subur kini tertutup material vulkanik yang cukup tebal.
Salah satu petani, Muhammad Hamid, mengaku lahan miliknya dan keluarga mengalami kerusakan yang cukup parah. “Perkiraan kami sekitar 50 hektar lahan sudah tidak bisa diselamatkan,” ungkapnya.
Ia mengatakan kerugian ini terasa semakin berat karena tanaman sebenarnya hampir memasuki masa panen. Hamid menambahkan bahwa modal yang mereka keluarkan belum tentu kembali akibat kejadian tersebut.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, kondisi lahan memang tampak memprihatinkan. Tanaman layu, tertimbun abu, dan tidak lagi memiliki nilai ekonomis bagi petani.
Hamid menjelaskan bahwa lahan itu ditanami berbagai jenis palawija seperti cabai dan tomat. Menurutnya, saat erupsi terjadi ia dan keluarga langsung mengungsi demi keselamatan.
Kerusakan yang terjadi tahun ini menurut Hamid lebih besar dibanding peristiwa sebelumnya. “Dampaknya sekarang jauh lebih luas dibanding tahun 2021,” ujarnya.
Ia memperkirakan ratusan hektar lahan warga lainnya turut terdampak. Jumlah itu dinilai akan terus bertambah setelah petani melakukan pengecekan detail di lapangan.
Masyarakat kini berupaya menyelamatkan tanaman yang masih mungkin dipanen. Namun sebagian besar tanaman tampaknya tidak dapat bertahan akibat abu yang menutupinya.
Hamid berharap pemerintah bisa memberikan perhatian khusus untuk membantu para petani bangkit kembali. Ia menyebut dukungan sangat dibutuhkan agar warga dapat kembali mengolah lahan setelah bencana mereda. [ada/aje]






