Surabaya (beritajatim.com) – Menjalankan amanah historis untuk mempererat hubungan kaum nasionalis dengan kaum santri, PDI Perjuangan yang langsung dipimpin Ketua DPP PDI Perjuangan Puan Maharani melakukan pertemuan dengan puluhan Gus.
Pertemuan dengan kiai-kiai muda, putra pengasuh pondok pesantren ternama yang tergabung Gawagis Jatim digelar di sebuah hotel di Surabaya, Kamis (16/6/2022).
Pertemuan yang berlangsung cukup hangat tersebut, juga dilakukan Puan yang Ketua DPR RI untuk menyerap aspirasi yang akan diusulkan para Gus-gus tersebut.
Ketua Gawagis Jatim, KH Maksum Faqih dari Ponpes Langitan Tuban dalam sambutannya mengatakan, bahwa Bung Karno sejak muda hingga menjadi Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia senantiasa berhubungan baik dengan ulama dan para kiai pengasuh pondok pesantren.
[berita-terkait number=”5″ tag=”puan-maharani”]
Bahkan, saat menjalani pengasingan di Bengkulu, kata Gus Maksum, Bung Karno masih tetap aktif berkirim surat dengan kakeknya (KH Abdul Hadi) untuk meminta dukungan dan doa dari kiai-kiai pesantren agar perjuangan merebut kemerdekaan bisa berjalan dengan baik dan segera terwujud.
Gus Maksum juga pernah mendapat cerita langsung dari pamannya, bahwa pada Muktamar NU tahun 1940-an di Surabaya, nama Bung Karno dan Bung Hatta juga ramai dibicarakan oleh para kiai terkait sosok yang paling layak menjadi pemimpin Indonesia, jika bangsa ini berhasil lepas dari penjajahan dan meraih kemerdekaan.
“Ada 11 kiai khos yang bermusyawarah, hasilnya 10 orang kiai memilih Bung Karno dan sisanya memilih Bung Hatta. Lima tahun kemudian (17 Agustus 1945) terbukti Bung Karno-lah yang menjadi presiden pertama Indonesia,” tegas Gus Maksum.
NU yang menjadi representasi kaum religius dan PDI Perjuangan representasi kaum nasional, lanjut Gus Maksum harus selalu bergandengan seperti adik dan kakak.
“Itulah yang dicontohkan oleh para leluhur kita, mulai Bung Karno dengan para kiai pondok pesantren, lalu berlanjut saat NU menjadi parpol hingga keluar dari Masyumi juga mendapat dukungan Bung Karno,” tegasnya.
Selain Gus Maksum Faqih, sejumlah gus yang lain juga ikut memberikan masukan, bahwa pondok pesantren membutuhkan uluran tangan PDI Perjuangan agar lebih memperhatikan pondok pesantren. Ini agar ruh dari kaum santri ini bisa tetap lestari dalam mengawal dan mengisi kemerdekaan.
“Religius nasionalis itu satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Sebab religius tanpa adanya nasionalisme, bisa menjadi gerakan-gerakan transnasional berbungkus agama yang kini mulai berkembang dan mengancam keutuhan NKRI,” kata Gus Hasbullah dari Ponpes Tegalrejo Ponorogo.
Munculnya UU Pesantren, kemudian Perda Jatim tentang Fasilitasi Pengembangan Pesantren merupakan angin segar bagi kalangan pesantren. Namun, mereka berharap Perda Pesantren bisa dibuat hingga tingkat kabupaten/kota agar perhatian pemerintah daerah kepada pesantren semakin nyata.
“Kami minta Ning Puan yang menjadi salah satu ketua DPP PDI Perjuangan ikut menginstruksikan kader PDI Perjuangan yang ada di daerah bisa mendorong dan menginisiasi lahirnya Perda Pesantren di kabupaten/kota di Jawa Timur,” pinta Gus Thoif.
Menanggapi hal tersebut, Puan Maharani mengaku senang karena bisa menjahit kembali tradisi silaturrahim yang dilakukan kakeknya bisa dilanjutkan generasi ketiga atau cucu.
“Saya setuju, saya jangan dipanggil ibu, tapi Ning saja, biar tidak kelihatan sudah sepuh banget. Silaturrahim ini sangat baik sekali kalau dilakukan secara berkala bukan hanya sekali, biar tidak ada dusta di antara kita. Karena jangan sampai muncul kesan kok lagi butuh baru datang,” ujar Puan.
Menurut Ning Puan, sejarah yang merekatkan antara Jas Merah dan Jas Hijau itu jangan sampai terusik, sehingga tak bisa seiring sejalan dalam hubungan satu keluarga besar Indonesia dalam membangun bangsa dan negara.
“Indonesia Semangka Hijau-Merah itu harus terus dijaga. Saya meyakini sebagai mayoritas muslim di Indonesia ini harus bisa menjaga saudara-saudara kita yang lain bukan beragama Islam, karena mereka juga ingin menjaga Indonesia seperti yang dicita-citakan the founding father. Yaitu, Indonesia yang beragam, Berbhinneka Tunggal Ika berdasarkan Pancasila,” tegas Puan.
“Kita tahu bahwa untuk membangun bangsa ini tak bisa hanya dilakukan oleh Jas Merah atau Jas Hijau sendirian, tapi harus bersatu dan bergotong royong. Ini juga menjadi tanggung jawab kita sebagai generasi penerus. Saya tegaskan PDI Perjuangan dan santri satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan,” lanjutnya.
Puan juga mengapresisi masyarakat Jatim yang dimotori kalangan santri, karena bisa menjaga pluralisme dan bersikap moderat, sehingga bisa menjadi teladan warga bangsa lain untuk senantiasa menjaga keutuhan NKRI.
“Insya Allah saya dan PDI Perjuangan akan mendorong pemerintah supaya komitmen membantu pesantren dan gus-gus lebih dari sebelumnya. Namun, kendalanya itu hanya soal teknis, yakni menyangkut sistem akuntabilitas. Saya meyakini ini bukan pertemuan pertama dan terakhir tapi akan berkesinambungan,” pungkas Ning Puan.
Dalam pertemuan tersebut turut pula hadir, Ahmad Basarah Wakil Ketua MPR RI, Said Abdullah Ketua Banggar DPR RI, Puti Guntur Soekarno dan Indah Kurnia (anggota DPR asal Fraksi PDI Perjuangan). Kemudian, juga ada Kusnadi (Ketua DPRD Jatim dan Ketua PDIP Jatim) dan Sri Untari Bisowarno (Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jatim). (tok/kun)






