Kediri (beritajatim.com) – Momentum krusial bagi industri gula di Jawa Timur bermula dari hamparan lahan Rayon Dhoho 2, Kebun L2. PT SGN MKSO Kebun Dhoho secara resmi mengawali siklus produksi tahun ini melalui seremoni tanam tebu perdana periode 2026 pada Kamis, 2 April 2026.
Langkah awal ini menjadi representasi nyata dari penggabungan antara nilai-nilai luhur kemasyarakatan dengan tuntutan teknologi pertanian modern dalam mengejar swasembada pangan.
Prosesi dimulai dengan ritual selamatan dan doa bersama yang melibatkan tokoh masyarakat setempat, menciptakan harmoni antara korporasi dengan lingkungan sosial di sekitar area perkebunan.
General Manager MKSO Kebun Dhoho, Juni Yanto, menegaskan bahwa ritual ini bukan sekadar tradisi formalitas, melainkan simbol integrasi antara kerja keras fisik dan aspek spiritual.
“Dan kesempatan ini tidak hanya proses menanam, melainkan juga wujud ikhtiar kami lahir dan batin melalui doa bersama,” bebernya.
Pelaksanaan selamatan ini dipandang sebagai pelestarian kearifan lokal yang diharapkan mampu menjadi proteksi bagi tanaman dari berbagai hambatan klinis maupun teknis. Keberhasilan musim tanam kali ini menjadi tolok ukur penting bagi kualitas pasokan bahan baku tebu di wilayah Kediri dan sekitarnya.
“Kami berharap setiap benih tebu yang kami tanam hari ini tumbuh subur, memberi manfaat banyak pihak, serta membawa keberkahan bagi seluruh keluarga besar kebun dhoho dan sekitarnya,” harap Juni Yanto.
Di sisi teknis, transformasi pertanian menjadi sorotan utama dalam agenda tanam tahun ini. Implementasi standar operasional tidak lagi mengandalkan cara konvensional sepenuhnya, melainkan beralih ke sistem yang lebih terukur dan efisien. Manager Tanaman Rayon Dhoho 2, Riyono Mursito.S, menjelaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan di lapangan telah mengadopsi prinsip operational excellence.
Strategi ini mencakup penguatan kultur teknis yang ditopang oleh mekanisasi alat mesin pertanian serta digitalisasi proses pemantauan dari hulu ke hilir.
Penggunaan teknologi ini bertujuan untuk memastikan setiap petak lahan mampu memberikan hasil produktivitas maksimal sesuai target perusahaan, sekaligus memperkuat posisi Jawa Timur sebagai lumbung gula nasional yang kompetitif di era digital. [nm/kun]






