Magetan (beritajatim.com) – Kabupaten Magetan akan segera menggelar Pemungutan Suara Ulang (PSU) di empat Tempat Pemungutan Suara (TPS) pada 22 Maret 2025. Menanggapi hal ini, berbagai pasangan calon (paslon) bupati memiliki respons yang berbeda terkait kesiapan mereka dalam menghadapi PSU.
Juru Bicara Paslon 01, Didik Haryono, menegaskan bahwa pihaknya siap menghadapi PSU dengan tenang.
“Ya, terkait dengan pelaksanaan PSU tanggal 22 atau di Sabtu, kami dari tim pemenangan Paslon 01 menghadiri dengan tenang saja. Siap saja bahwa ini karena ini harus dilakukan ya kita melaksanakan kegiatan biasa saja,” ujarnya.
Lebih lanjut, Didik menyatakan bahwa tidak ada persiapan khusus dari timnya karena mereka menganggap PSU ini sebagai bagian dari proses demokrasi yang harus dijalankan sesuai keputusan Mahkamah Konstitusi (MK).
“Artinya begini, tidak ada hal-hal yang luar biasa yang kami kesiapan untuk menghadapi PSU ini. Kami melalui tim di lapangan yang pasti melakukan sosialisasi, melakukan edukasi kepada pemilih di empat TPS untuk memilih pasangan 01 dengan harapan membangun Magetan dari tingkat desa melalui RT dan seterusnya,” jelasnya.
Didik juga mengajak semua elemen masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mendramatisir situasi. Ia menekankan bahwa PSU adalah proses yang harus dijalankan secara damai dan demokratis. “Nah, oleh sebab itu kami berharap semua elemen masyarakat juga ikut bersama-sama menganggap menghadapi PSU ini sesuatu yang biasa saja. Tidak perlu didramatisir terjadi ketegangan yang luar biasa bagaimana,” tambahnya.
Selain itu, ia juga menyoroti peran penyelenggara pemilu seperti KPU dan Bawaslu agar lebih profesional dalam menjalankan PSU. “Nah, kami juga berharap penyelenggara pemilu yakni KPU Bawaslu agar lebih profesional lagi dalam menghadapi PSU ini. Lebih teliti, lebih cermat sehingga tidak ada hal-hal yang melanggar dari aspek penyelenggaraan,” kata Didik.
Tak hanya itu, ia juga mengajak aparat keamanan dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkomdida) untuk berperan dalam menjaga kondusifitas jalannya PSU. “Terkait dengan keamanan, kami juga berharap pihak kepolisian, Forkopimda ikut bersama-sama menciptakan proses pilkada PSU di 4 TPS secara damai, tenang, tertib dan demokratis,” ungkapnya.
Sementara itu, tim Paslon 02, dr. Pangajoman menyampaikan bahwa mereka tidak memiliki persiapan khusus. “Nggak ada persiapan apa-apa… Ngga ada komunikasi dan koordinasi…,” katanya singkat.
Calon Bupati Magetan nomor urut 3, Sujatno, juga mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki strategi atau persiapan khusus dalam menghadapi PSU. “Sebagai calon saya biasa saja, gak ada persiapan khusus. Harapannya masyarakat menggunakan hak pilih sebaik-baiknya secara demokratis,” tuturnya.
Dengan berbagai respons dari masing-masing paslon, PSU di Magetan diharapkan dapat berjalan dengan aman dan lancar, mencerminkan demokrasi yang sehat dan partisipatif.
Namun, ketiga paslon kompak bungkam saat ditanya apakah melibatkan tokoh non-parpol untuk membantu pemenangan. Diketahui, sejumlah tokoh sudah merapat ke masing-masing paslon menjelang pemungutan suara 27 November 2024 lalu.
Untuk paslon nomor urut 01 Nanik Endang Rusminiarti-Suyatni Priasmoro, sejumlah tokoh sempat merapat. Diantaranya mantan Sekretaris Daerah Magetan (pensiunan) Bambang Trianto, mantan Kepala Dinas Pariwisata Magetan (pensiunan) Siran, dan sejumlah tokoh perguruan silat, pengusaha, hingga tokoh agama.
Kemudian, untuk tokoh yang berpengaruh yang sempat memberikan dukungan pada paslon 02 Hergunadi-Basuki Babussalam yakni mantan Bupati Magetan Suprawoto. Serta sejumlah tokoh lain di bidang hukum, hingga pengusaha.
Selanjutnya, untuk tokoh yang sempat merapat ke paslon 03 Sujatno-Ida Yuhana Ulfa yakni Haji Jalal. Diketahui, Haji Jalal merupakan pengusaha dan cukup dikenal dalam kiprahnya dalam politik lokal Magetan.
Namun, tidak diketahui pasti apakah para tokoh ini bakal memberikan pengaruh signifikan terhadap masyarakat di empat TPS yang menggelar PSU. Lantaran, pengamat Politik Magetan, Muries Subiantoro justru memperkirakan, peran botoh yang justru menentukan.
Penggagas Local Government and Political Research Institute (Logopori) itu mengatakan, botoh dalam konteks politik lokal adalah sosok yang memiliki pengaruh dalam mobilisasi pemilih, terutama melalui faktor logistik dan politik uang. Muries menyoroti bahwa dalam situasi head-to-head seperti ini, peran botoh akan menjadi semakin dominan dan menentukan.
“Karena saya menganggap ini head to head ya, kompetisi yang tinggal sekali ini saja untuk menentukan pemenang, maka pengaruh botoh apakah di Kubu 01 maupun di Kubu 03 terutama karena kalau Kubu 02 tidak ada pengaruhnya, itu sejauh mana peran para botoh yang ada,” kata Muries. [fiq/beq]






