Surabaya (beritajatim.com) – PSSI menunda pelaksanaan kongres di 17 provinsi, termasuk Jawa Timur. Ketua Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Jawa Timur, Ahmad Riyadh, dalam konferensi pers di Surabaya menegaskan bahwa keputusan tersebut merupakan dinamika organisasi yang harus dihormati.
Penundaan menyasar provinsi yang masa kepengurusannya telah habis atau sedang menjalani tahapan kongres. Riyadh menjelaskan, langkah ini diambil untuk menyeragamkan jadwal kongres di seluruh Indonesia, terutama bagi daerah yang masa jabatannya berakhir pada 2025 dan 2026.
“PSSI berpendapat pentingnya menunda kongres untuk menyeragamkan seluruh Indonesia. Karena ada daerah yang masa jabatannya berakhir 2025 dan ada yang 2026,” ujarnya, Kamis (11/12/2025).
Selain itu, keputusan penundaan juga berkaitan dengan revisi kebijakan nasional di bidang sepak bola yang tengah dibahas bersama pemerintah. Beberapa poin yang disinkronkan meliputi pemanfaatan aset daerah seperti stadion, serta sosialisasi statuta baru hingga tingkat Askab dan Askot.
“Ada statuta yang perlu disosialisasikan lebih dalam, karena menyangkut Askab dan Askot, termasuk mekanisme penunjukan,” jelasnya.
Riyadh, yang juga anggota Exco PSSI, mengatakan dirinya mengikuti pembahasan internal bersama Ketua Umum PSSI pada malam sebelumnya. Mayoritas Exco disebut sepakat bahwa penundaan diperlukan.
“Dinamika organisasi itu biasa. Tidak semuanya setuju, tapi mayoritas setuju. Prinsipnya untuk kebaikan organisasi supaya lebih profesional dan searah dengan konsep seperti pilkada serentak,” pungkasnya. (way/but)






