Jember (beritajatim.com) – Kongres tahunan Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Jember, Jawa Timur, di Dira Park, Rabu (10/12/2025), tidak dihadiri ketua umum Abdullah Waid dan diwarnai adu gebrak meja sesama pengurus.
Kongres diihadiri perwakilan dari 45 klub anggota Askab PSSI Jember dan Mikko Agus Pribadi dari Komite Sepak Bola Asosiasi Provinsi PSSI Jawa Timur.
Waid tidak hadir dengan alasan sedang ada kegiatan lain. “Saya pas di luar,” katanya kepada beritajatim.com.
Suasana memanas setelah Nila Widya, Wakil Sekretaris Askab PSSI Jember yang juga pengurus klub Jember Putra maju ke meja pimpinan rapat untuk melakukan protes.
Nila tak hanya maju mendatangi Wakil Ketua Askab PSSI Jember Andik Slamet Santoso yang memimpin rapat. Dia menggebrak meja di hadapan Andik.
Andik balas menggebrak dan menuding balik Nila. Sejumlah pria berpakaian kaos biru bertuliskan Jember Baru Jember Maju dan menghalangi Nila yang terus melontarkan protes dengan penuh semangat.
“Kongres ini cacat prosedural. Sebelum kongres seharusnya dilakukan pra kongres untuk memusyawarahkan program kegiatan 2026,” kata Nila usai acara.
Selain itu, menurut Nila, Sekretaris Askab Jaya Hartono tidak dilibatkan. “Saya juga tidak diberitahu,” katanya.
Padahal, lanjut Widya, sekretaris bertugas mencatat semua kegiatan pra kongres yang hasilnya disampaikan dalam kongres tahunan.
“Mbok ya kami ini diajak bicara. Statuta PSSI pasal 28 jelas bahwa semua harus teroganisir melalui sekretaris,” kata Nila.
Nila akan melayangkan surat ke Asprov PSSI Jatim soal kongres itu. “Tadi Pak Mikko menyarankan untuk bersurat,” katanya.
Nila berharap ada perubahan di Askab PSSi Jember. “Kalau memungkinkan dibekukan ya monggo kalau menyalahi aturan. Kami hanya ingin menegakkan statuta,” katanya.
Andik Slamet menilai kejadian dalam kongres tersebut dinamika biasa. “Yang dipermasalahkan apa? Kegiatan kita sudah dilaksanakan,” katanya.
Soal statuta, Andik mengatakan, statuta lama sudah dicabut. “Kita belum punya statuta (baru),” katanya.
Selain itu, Andik menyatakan masih menunggu arahan dari Asprov PSSI Jatim. “Kalau kita langsung nge-share tidak tahu agendanya, konyol tidak? Sedangkan kalau kongres mundur lagi pada Januari 2026, itu namanya bukan kongres tahunan,” katanya.
Menurut Andik, peserta kongres baru bisa menuntut kepengurusan Askab jika program kerja pada 2025 tidak dilaksanakan.
Andik mengatakan program kerja kepengurusan saat ini adalah masa transisi dari Tri Sandy Apriana yang memimpin Askab sebelumnya ke Abdullah Waid. “Program 2025 sudah selesai. Kalau tidak selesai, baru mereka menuntut kepada kami,” katanya
Andik menegaskan, Askab Jember sudah melaksanakan semua program walau tidak ada anggaran,. “Jadi kalau ganjalan kecil jadi besar, kasihan yang membina,” katanya. [wir/beq]






