Malang (beritajatim.com) – Terkait kasus Polwan Polres Mojokerto Kota berinisial Briptu FN yang membakar suaminya Briptu RDW hidup-hidup, menurut Psikolog Universitas Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Uun Zulfiana, M.Psi., ada kemungkinan yang terjadi pada pelaku pembunuhan adalah depresi yang berkepanjangan.
“Akan tetapi dibutuhkan asesmen lebih lanjut karena untuk diagnosa apakah pelaku mengalami kelainan psikologis atau tidak perlu beberapa pendekatan atau beberapa asesmen secara psikologi,” ungkap Uun, sapannya, Senin (10/6/2024) kepada beritajatim.com.
Depresi berkepanjangan, lanjut Uun, artinya kemungkinan kasus yang dilakukan pelaku tidak terjadi satu kali. Ada kemungkinan sudah terjadi tindakan lain sebelumnya.
“Tindakan itu sudah terjadi berlarut-larut sehingga pelaku mengalami depresi dan depresi itulah yang menyebabkan orang sulit untuk berpikir jernih dan cenderung mudah mengambil keputusan tanpa berpikir panjang,” ungkap dosen Psikologi UMM ini.
Dijelaskan pihaknya, suatu kejadian atau suatu kegiatan tidak hanya berdampak pada suatu individu. Namun sirkel terdekat, yaitu keluarga pasti terdampak. Apalagi jika ditelusuri dari kasus ini memiliki keluarga dengan tiga anak.
“Tentu intake dari social impact dan ekonomi dan yang lain juga pengaruh ke keluarga ini terutama mungkin pasca kejadian ini. Artinya pasca kejadian ini anak-anak dan keluarga pasti juga menjadi sorotan dan ini pasti berimpact sekali pada kehidupan mereka selanjutnya,”
Termasuk terhadap pelaku yang disebut mengalami trauma dan depresi setelah melakukan aksinya. Uun menyebut kematian memang sangat mungkin menyebabkan trauma, karena salah satu faktor penyebab trauma adalah kematian.
Dengan kejadian ini, dosen UMM tersebut menghimbau kepada masyarakat agar menjaga diri dengan baik dan tidak malu untuk menceritakan masalah dialami. Namun, dalam menceritakan masalah juga harus memilih kepada siapa harus menceritakan.
“Yang termudah menceritakan pada sirkel terdekat kita, bisa keluarga atau sahabat. Kemudian yang kedua adalah jika perlu, jangan segan untuk meminta pertolongan atau mencari pertolongan pada profesional, apakah itu psikologi atau mungkin psikiater,” katanya menutup. (dan/kun)






