Malang (beritajatim.com) – Ratusan akademisi, peneliti, dan aktivis gender dari seluruh Indonesia berkumpul di Universitas Brawijaya (UB) Guest House, Kota Malang. Selama dua hari, 10–11 November 2025, mereka mengikuti Konferensi Nasional dan Kongres Luar Biasa (KLB) Asosiasi Sosiologi dan Kajian Gender Indonesia (ASWGI) 2025.
Acara yang digelar oleh Pusat Studi Gender (PSG) UB ini menjadi forum kolaboratif untuk memperkuat jejaring riset dan mengarusutamakan perspektif gender di tengah gempuran tantangan disrupsi global.
Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., yang membuka acara secara resmi, menyampaikan apresiasi penuh. Ia menegaskan bahwa di tengah arus transformasi digital dan disrupsi sosial yang masif, peran ASWGI justru menjadi semakin krusial.
“Era disrupsi tidak hanya membawa transformasi digital, tetapi juga disrupsi sosial yang dapat memperlebar ketimpangan jika tidak kita kelola dengan bijak,” papar Prof. Widodo.
Rektor UB menambahkan, Universitas Brawijaya berkomitmen menjadi rumah bagi lahirnya terobosan pemikiran dan aksi nyata dari ASWGI untuk menjawab tantangan zaman.
Ketua PSG UB sekaligus Ketua Pelaksana, Dr. Dra. Lilik Wahyuni, M.Pd., menegaskan bahwa forum ini lebih dari sekadar agenda organisasi. Menurutnya, kegiatan ini merupakan panggilan moral bagi akademisi untuk memperkuat komitmen terhadap tujuan kelima Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu Kesetaraan Gender.
“Melalui diskusi dan rumusan kebijakan di forum ini, kita ingin memastikan ASWGI terus relevan dan berdampak nyata bagi masyarakat,” ujar Lilik Wahyuni.
Rangkaian acara ini memiliki dua fokus utama. Hari pertama, Senin (10/11), dialokasikan untuk Kongres Luar Biasa (KLB) yang mencakup laporan pertanggungjawaban pengurus periode 2023–2025, pembahasan anggaran dasar, serta pemilihan Ketua Umum ASWGI periode 2025–2029.
Hari kedua, Selasa (11/11), difokuskan pada Konferensi Nasional dengan tema “Penguatan Peran ASWGI di Era Disrupsi.” Para peserta terlibat aktif dalam berbagai sesi paralel yang membahas isu lintas bidang—mulai dari sosial-humaniora, pendidikan, ekonomi, hingga teknologi dan transformasi digital.
Ketua ASWGI, Prof. Dr. Ir. Keppi Sukesi, M.S., dalam pidatonya menyerukan agar organisasi ini memasuki fase baru yang lebih adaptif dan visioner.
“Kita tidak bisa hanya berjalan di belakang perubahan. ASWGI harus menjadi motor penggerak yang mampu memimpin perubahan paradigma tentang kesetaraan dan keadilan gender di ruang akademik maupun masyarakat,” tegas Prof. Keppi.
Sebagai tindak lanjut konkret, kegiatan ditutup dengan Business Meeting untuk merancang agenda kolaborasi. Para peserta sepakat memperkuat riset kolaboratif, meningkatkan publikasi ilmiah terindeks, serta mendorong integrasi perspektif gender dalam kurikulum pendidikan tinggi. [kun]






