Jember (beritajatim.com) – Persatuan Sepak Bola Amputasi Indonesia (PSAI) tengah menyusun program pengembangan sepak bola amputasi di Indonesia mulai dari level pusat hingga daerah. Salah satunya pengembangan sepak bola amputasi usia dini.
“Kami memiliki beberapa pemain di daerah, terutama di Jawa Timur. Banyak pemain yang berusia di bawah 19 tahun, dan mereka punya potensi cukup bagus untuk kami kembangkan,” kata Direktur Teknik PSAI, Rixhi Saputra, ditulis Rabu (5/10/2022).
Rencananya, tahun depan PSAI menggulirkan kompetisi sistem liga. “Regulasinya masih kami rancang. Itu jadi acuan program pengembangan sepak bola amputasi saat ini,” kata Rixhi.
Rixhi berharap ada dukungan maksimal dari pemerintah dan swasta. “Biar bagaimana pun penyandang disabilitas masih menjadi tanggung jawab pemerintah, terkait kegiatan apapun yang bersifat prestasi atau pengembangan segala sektor,” katanya.
“Harapan kami untuk sepak bola amputasi, pemerintah mendukung penuh agar kami bisa bersaing dengan negara-negara Eropa dan Amerika Latin,” kata pria asal Jember ini.
Sepak bola amputasi Indonesia sudah berkiprah di level internasional dengan menjadi peserta Piala Dunia Sepak Bola Amputasi di Turki, awal Oktober 2022. Dalam tiga pertandingan babak penyisihan Grup C, Indonesia mengalami kekalahan beruntun.
[berita-terkait number=”3″ tag=”Jember”]
Kekalahan pertama diperoleh dari Argentina dengan skor 0-3. Berikutnya Indonesia dikalahkan Inggris juga dengan skor 0-3.
Kekalahan terbesar dialami dari Amerika Serikat, Senin (3/10/2022). Tim Indonesia digunduli 0-5. Rixhi menilai, mental pemain Indonesia ambruk.
“Permainan tidak bisa dikembangkan dengan baik. Tekanan pemain Amerika cukup bagus. Permainan mereka mirip Inggris. Setelah terjadi gol, mental pemain down sehingga kami kesulitan membalas dan mencetak gol,” katanya.
Belajar dari Piala Dunia, Rixhi ingin pembinaan sepak bola amputasi di Indonesia dilakukan dengan serius. Salah satu acuan pembinaan adalah Jepang.
“Mereka banyak melakukan agenda uji coba dengan tim-tim luar negeri. Itu membuat sepak bola amputasi di Jepang sangat maju. Negara-negara lain juga sering melakukan uji coba melawan tim-tim luar negeri yang bagus. Uji coba ini memang dibutuhkan untuk pengembangan sepak bola amputasi di Indonesia,” katanya. [wir/beq]






