Banyuwangi (beritajatim.com) – Program gotong royong penanganan kemiskinan “ASN Berbagi” di Kabupaten Banyuwangi sukses menurunkan angka kemiskinan hingga menyentuh rekor terendah 6,13 persen pada tahun 2025. Inisiatif yang digagas Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani ini mewajibkan ribuan ASN menyalurkan paket sembako secara door to door kepada warga kurang mampu yang terdata dalam aplikasi Smart Kampung.
Penyaluran bantuan didasarkan pada data warga miskin desil 1 dan desil 2 dari Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) pemerintah pusat. Melalui sentuhan langsung di lapangan, para aparatur tidak hanya memberikan bantuan materi, tetapi juga menumbuhkan empati dan kepuasan batin bagi pemberi maupun penerima.
Sekretaris Kelurahan Sobo, Ayu Widuri, mengungkapkan bahwa keterlibatan langsung dalam program bulanan ini memberikan pengalaman emosional yang sangat mendalam. Ia merasa ada kebahagiaan luar biasa saat melihat langsung senyum syukur dari warga yang didatangi di kediamannya.
“Ketika saya membantu masyarakat secara langsung, ada kebahagiaan luar biasa di hati. Ada kepuasan batin. Masyarakat bahagia, saya juga ikut bahagia,” ujar Ayu saat menyalurkan bantuan sembako di Kelurahan Sobo, Kamis (29/1/2026).
Kegiatan rutin ini diikuti secara konsisten oleh seluruh unsur Pegawai Negeri Sipil (PNS) serta Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Ayu meyakini bahwa tindakan membantu sesama justru akan mendatangkan keberkahan yang lebih luas bagi kesehatan dan ketenangan para petugas.
“Saya percaya ketika kita membantu orang lain, rezeki tidak akan berkurang. Insyaallah justru bertambah, baik berupa kesehatan, ketenangan, maupun rezeki lain yang tidak bisa diukur dengan materi,” katanya.
Senada dengan Ayu, Mursidi yang merupakan ASN di Kelurahan Sobo mengaku merasakan ketenangan spiritual yang muncul usai membantu warga kurang mampu. Pengalaman terjun langsung ke lapangan menjadi pengingat bagi setiap aparatur untuk tetap membumi dalam menjalankan tugas pelayanan publik.
“Setelah memberi bantuan, perasaan saya jadi lebih tenang,” tutur Mursidi secara lugas. Ia berharap program “Banyuwangi Berbagi” terus berjalan konsisten agar membawa keberkahan bagi seluruh elemen masyarakat di wilayah ujung timur Pulau Jawa tersebut.
“Mudah-mudahan program dari pemerintah ini membawa berkah bagi kita semua,” ungkapnya. Harapan ini selaras dengan misi pemerintah daerah untuk memperkuat jaring pengaman sosial melalui gerakan kesetiakawanan sosial dari para abdi negara.
ASN lainnya, Ratna Juwita, mengaku haru sekaligus bangga karena program ini memaksa setiap pegawai untuk melihat realitas sosial di sekeliling mereka. Baginya, gerakan ini adalah pengingat penting agar para ASN tidak meremehkan setiap nikmat yang telah didapatkan selama ini.
“Kami merasa inilah implementasi filosofi ‘Kalau kita sedih lihatlah ke bawah’. Bukan berarti merendahkan orang lain, namun mengingatkan kita semua agar dalam memandang dunia kita tidak meremehkan nikmat Allah, harus mensyukuri setiap nikmat yang kita dapat,” kata Ratna.
Sejak bergulir dua tahun lalu, program ini telah berkembang pesat dengan mendapatkan dukungan luas dari jajaran TNI, Polri, BUMN, hingga BUMD. Gerakan ini kini tidak lagi eksklusif bagi ASN, melainkan telah menjadi gerakan kolektif masyarakat Banyuwangi yang melibatkan berbagai organisasi profesi.
Mulai tahun 2025, berbagai asosiasi seperti HIPMI, Kadin, Ikatan Dokter Indonesia (IDI), hingga Ikatan Bidan Indonesia (IBI) turut serta menyalurkan bantuan. Partisipasi aktif juga datang dari sektor swasta, mulai dari pengelola rumah sakit hingga pengusaha konstruksi yang ada di Banyuwangi.
Efektivitas berbagai program penanganan kemiskinan di bawah kepemimpinan Bupati Ipuk tercermin dari data statistik yang terus mengalami tren penurunan signifikan. Angka kemiskinan yang sempat berada di level 8,07 persen pada 2021 terus menyusut menjadi 7,51 persen pada 2022 dan 7,34 persen pada tahun berikutnya.
Memasuki tahun 2024, angka tersebut kembali turun ke angka 6,8 persen sebelum akhirnya mencapai titik terendah sepanjang sejarah Banyuwangi yakni 6,13 persen di tahun 2025. Keberhasilan ini menempatkan Banyuwangi sebagai salah satu daerah dengan performa penanggulangan kemiskinan terbaik di Jawa Timur. [alr/beq]






