Malang (beritajatim.com) – Universitas Brawijaya akan mengukuhkan Prof. Dr. Sony Sukmawan, S.Pd., M.Pd., sebagai Guru Besar pertama bidang kajian sastra lisan dan sastra lingkungan. Bahkan menurut pengakuan Prof Sony ia menjadi guru besar pertama bidang sastra lingkungan di Indonesia.
Guru besar dari program studi Pendidikan Bahasa Indonesia (Diksasindo) Fakultas Ilmu Budaya UB ini menyampaikan pidato pengukuhan berjudul “Model Susastra Cahaya: Merintis Pembelajaran Sastra Ekoteologis Menuju Peradaban Sastra Pasca Manusia.” Konsep ini menawarkan pendekatan baru dalam pembelajaran sastra dengan mengintegrasikan aspek lingkungan (ekologi) dan nilai-nilai ilahiah (religiusitas).
Prof. Sony menjelaskan bahwa model ini lahir dari keterbatasan kajian sastra ekokritik yang ada saat ini. Ekokritik cenderung berfokus pada konservasi lingkungan tanpa menyentuh dimensi spiritual.
“Alam adalah manifestasi kekuatan ilahi, pancaran cahaya Tuhan. Sastra harus mampu membawa pembelajaran pada kesadaran tertinggi, yaitu mempertebal iman dan kepercayaan kepada Tuhan,” ungkap penulis buku Ekokritik Sastra (2016) dan Sastra Lingkungan (2015) ini.
Sony juga menyoroti dominasi antroposentrisme dalam teks sastra modern yang lebih berpusat pada manusia. Menurutnya, hal ini perlu diimbangi dengan tanggung jawab terhadap alam sebagai bagian integral kehidupan.
Konsep Model Susastra Cahaya tidak hanya berfokus pada hubungan manusia dan lingkungan tetapi juga pada simbolisasi ketuhanan. Dalam pandangan Prof. Sony, cahaya adalah metafora universal yang hadir dalam berbagai tradisi agama, mulai dari Islam hingga Hindu. “Cahaya adalah simbol ketuhanan, yang melampaui keindahan sastra itu sendiri,” tambahnya.
Model ini diharapkan menjadi solusi di tengah tantangan global, seperti perubahan iklim dan degradasi lingkungan. “Kita harus mengarahkan pembelajaran sastra tidak hanya pada konservasi tetapi juga pada penyadaran spiritual yang lebih dalam,” tegasnya.

Prof. Sony mengajak kepada akademisi dan masyarakat untuk tidak hanya membaca sastra sebagai refleksi kehidupan manusia, tetapi juga sebagai medium perenungan spiritual dan ekologi. “Melalui Model Susastra Cahaya, saya berharap sastra dapat menjadi pemandu menuju peradaban baru yang lebih harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan,” tutupnya.
Koordinator Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UB, Dr. Dra. Eti Setiawati, M.Pd., menyambut baik pengukuhan ini. Menurutnya, pencapaian Prof. Sony menjadi motivasi bagi para dosen untuk terus berinovasi dan meningkatkan prestasi akademik.
“Prof Sony adalah guru besar pertama di Prodi kami, bahkan kalau tidak salah juga FIB UB. Ini pencapaian luar biasa yang akan membawa kemajuan bagi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia,” ujarnya.
Prof Sony rencana dikukuhkan pada rentan 15 hingga 19 Desember 2024. Acara ini menjadi momen penting dalam pengembangan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, khususnya dalam kajian sastra lisan dan sastra lingkungan di Universitas Brawijaya (UB) dan seluruh Indonesia. (dan/kun)






