Jakarta (beritajatim.com) — Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, secara resmi meresmikan peningkatan produksi minyak dari Lapangan Banyu Urip yang berada di Blok Cepu, Bojonegoro, Jawa Timur.
Acara peresmian yang digelar secara daring ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, termasuk Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, Kepala SKK Migas Djoko Siswanto, dan Presiden ExxonMobil Indonesia Wade Floyd.
Proyek ini merupakan hasil dari pengembangan program Banyu Urip Infill Clastic (BUIC) yang diproyeksikan akan menambah produksi minyak hingga 30.000 barel per hari.
Dengan peningkatan ini, total produksi tahunan Blok Cepu pada tahun 2025 diperkirakan mampu melampaui target yang ditetapkan dalam APBN.
“Peresmian ini adalah tonggak penting dalam mewujudkan swasembada energi nasional,” ujar Presiden Prabowo Subianto, Kamis (26/5/2025).
Ia menekankan bahwa sumber daya alam Indonesia harus dikelola secara bijak untuk kepentingan rakyat. “Kita bersyukur bahwa kita memiliki sumber energi yang juga luar biasa,” tambahnya.
Blok Cepu Jadi Penopang Utama Produksi Minyak Nasional
Blok Cepu yang dikelola oleh ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) telah menyumbang lebih dari 25 persen dari total produksi minyak nasional.
Puncak produksi blok ini diperkirakan mencapai 170.000 hingga 180.000 barel per hari, menjadikannya salah satu aset strategis dalam ketahanan energi Indonesia.
Menariknya, lebih dari 99% tenaga kerja di ExxonMobil Cepu Limited merupakan putra-putri Indonesia, mencerminkan kapasitas dan kualitas SDM nasional yang mumpuni dalam sektor energi.
Proyek BUIC: Inovasi Lokal dan Efisiensi Global
Proyek BUIC resmi dimulai pada April 2024 dan sukses diselesaikan pada Juni 2025—sepuluh bulan lebih cepat dari jadwal semula.
Proyek ini melibatkan pengeboran tujuh sumur baru yang dilakukan oleh PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) menggunakan rig canggih buatan dalam negeri.
“Ini bukti bahwa teknologi pengeboran kita sudah sangat berkembang. PDSI menggunakan rig hasil karya anak bangsa. Ini luar biasa,” kata Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia.

Menurut Bahlil, percepatan proyek ini merupakan prestasi tersendiri. “Target kita 2029-2030 lifting minyak harus mencapai 900.000 sampai 1 juta barel. Sekarang saja sudah ada tambahan 30.000 barel per hari dalam waktu kerja hanya delapan bulan—sepuluh bulan lebih cepat dari rencana awal,” jelasnya.
Kolaborasi Pemerintah, BUMN, dan Mitra Global
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyatakan bahwa keberhasilan proyek BUIC merupakan hasil kerja sama yang solid antara pemerintah, BUMN, dan mitra internasional.
“Kami mengapresiasi ExxonMobil Cepu Limited atas keberhasilan menyelesaikan proyek ini lebih cepat dari target. Ini menunjukkan peningkatan kapabilitas sektor hulu migas Indonesia,” ujar Djoko.
Presiden ExxonMobil Indonesia, Wade Floyd, juga menyampaikan kebanggaannya atas keberhasilan ini. “Pencapaian ini mencerminkan kekuatan kolaborasi dengan Pemerintah Indonesia dan dedikasi luar biasa dari tenaga kerja lokal,” katanya.
Ia menambahkan bahwa ExxonMobil siap terus mendukung target energi nasional dengan menjunjung tinggi keselamatan, inovasi, dan keunggulan operasional.
Dampak Positif bagi Ekonomi Lokal
Selain mendukung ketahanan energi nasional, proyek BUIC juga memberikan manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat lokal. Berbagai pelaku usaha dan rantai pasok di Bojonegoro turut terlibat dalam pelaksanaan proyek ini, memperkuat peran industri daerah dalam ekosistem energi nasional.
Dengan kolaborasi kuat lintas sektor dan percepatan realisasi proyek, pencapaian BUIC menjadi contoh nyata bagaimana Indonesia mampu mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan untuk masa depan yang lebih mandiri dan sejahtera. (ted)






