Bojonegoro (beritajatim.com) – Setelah dua periode menjadi Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) di era Presiden Joko Widodo (Jokowi), Pratikno kembali menjadi menteri di Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Pratikno di mata mantan Bupati Bojonegoro Suyoto sangat berkesan. Suyoto yang memimpin Bojonegoro selama dua periode pada 2008-2013 dan 2013-2018 itu mengaku punya kedekatan tersendiri terhadap Pratikno yang sekarang menjabat sebagai Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) itu.
Bagi Suyoto, Pratikno telah menginspirasinya saat mencalonkan bupati hingga terpilih. Salah satunya yang paling membekas diingatan Suyoto adalah buku yang ditulis oleh Pratikno tentang curse to blessing atau melawan kutukan sumber daya alam. Buku itu menginspirasinya saat mencalonkan sebagai bupati dan diaplikasikan sebagai program.
“Tulisan itu cukup menginspirasi saya saat berkampanye dan kemudian menjadi Bupati Bojonegoro,” ujarnya, Rabu (23/10/2024).
Bahkan, saat sudah terpilih dan belum dilantik Suyoto menyempatkan diri ke Yogyakarta untuk menggali lebih lanjut gagasan dan pikirannya tentang bagaimana mengelola Bojonegoro agar membawa dampak pengurangan kemiskinan tapi juga pondasi berkelanjutan untuk kesejahteraan rakyat.
“Bojonegoro apalagi waktu itu ada momentum di mana Bojonegoro akan mendapatkan berkah minyak,” imbuh politisi yang sekarang bergabung di Partai NasDem.
Dalam diskusi dengan menteri kelahiran Desa Dolokgede Kecamatan Tambakrejo itu, menginspirasi Suyoto hingga agak fasih dalam memetakan problematik daerah penghasil migas dan kemudian mencoba menggunakan momentum untuk pembangunan berkelanjutan.
“Diantara kebijakannya Perda konten lokal atau optimalisasi potensi lokal, beasiswa dana abadi dan lain-lain,” jelasnya.
Lanjut mantan bupati asal Desa Bakung Kecamatan Kanor itu, pada periode kedua usai terpilih, Suyoto mengaku membawa staf Pemkab Bojonegoro ke kantor Pratikno saat masih menjabat Rektor UGM untuk menyusun RPJMD 2014-2018.
“Kenapa waktu itu kita ngomong lumbung pangan dan energi, itu juga diskusi di kantornya beliau,” imbuhnya.
Ide Pratikno, menurut Suyoto yang juga signifikan waktu itu adalah pentingnya investasi SDM dan karena itulah kemudian vokasional menjadi salah satu atensi. Suyoto mewujudkan ide Pratikno dengan merintis bersama teman-teman yaitu AKN, pembangunan SDM terampil adalah pintu penurunan kemiskinan berkelanjutan.
“Inilah salah satu pondasi keberlanjutan Bojonegoro ke depan. Sayang kemudian hari di tengah jalan harus diberhentikan,” sesalnya.
Diakhir konfirmasinya, Suyoto menilai bahwa kakak kandung calon Bupati Bojonegoro Setyo Wahono itu memiliki jiwa rendah hati, terbuka terhadap hal-hal baru dan berpikir apa yang menjadi kemaslahatan publik.
“Beliau memilih pendekatan solutif dan tidak konfrontatif. Dengan kompetensi beliau jadi saya kira pantas beliau mendapatkan Maqom politik menjadi menteri Pak Jokowi 2 periode dan sekarang menjadi Menko PMK,” pungkasnya. [lus/beq]






