Jombang (beritajatim.com) – Pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, masih dilakukan dengan kapasitas 50 persen, meskipun saat ini sudah masuk pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level 1.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jombang Agus Purnomo mengatakan, PTM di SD dan SMP hingga kini masih menerapkan sistem shifting (pergeseran) dengan prosentase kehadiran 50:50 (persen). Yakni, murid dijadwalkan masuk secara bergantian sesuai absensi atau dengan tanggal ganjil-genap.
Seperti diketahui, sejak 16 November 2021, status PPKM di Kabupaten Jombang turun dari level 2 menjadi level 1. Itu karena kasus covid-19 di Kabupaten Jombang semakin melandai. Bahkan, hingga Kamis (18/11/2021), Covid-19 di Jombang menyisakan 4 kasus aktif. Dari jumlah itu, 3 pasien dirawat di rumah sakit dan 1 pasien menjalani isolasi mandiri. Selain itu, capaian vaksinasi lansia tercapai lebih dari 60 persen.
“PTM terbatas ini sudah berjalan sejak beberapa bulan lalu, yakni saat Kabupaten Jombang masuk dalam PPKM level 2. Meski saat ini (Jombang) sudah PPKM level 1, tapi PTM masih sama, yakni terbatas 50 persen. Kita masih melakukan evaluasi hingga satu bulan kedepan. PTM akan digelar 100 persen pada Januari 2022,” kata Agus, Kamis (18/11/2021).
[berita-terkait number=”5″ tag=”covid-19-jombang”]
Selama evaluasi tersebut, pihaknya terus melakukan percepatan vaksinasi hingga tuntas 100 persen. Vaksinasi itu ditarget tuntas pada Desember mendatang. Menurut Agus, vaksinasi merupakan langkah membentuk kekebalan kelompok atau Herd Immunity. Nah, ketika Desember sudah kelar, maka PTM bisa dimulai Januari 2022. “Saat ini di atas 60 persen,” imbuhnya.
Meski capaian vaksinasi sudah lumayan tinggi, Agus tidak henti mengingatkan agar anak didik dan tenaga pendidik tidak kendor dalam menerapkan protokol kesehatan (prokes). Yakni, memakai masker, mencuci tangan saat masuk ke ruangan kelas, menjaga jarak, mengurangi mobilitas, serta menghindari kerumunan.
“Karena prokes 5M tersebut berguna untuk memutus rantai penyebaran Covid-19. Hasil evaluasi yang kami lakukan, penerapan prokes di lembaga pendidikan cukup bagus. Hingga saat ini juga tidak ada klaster Covid-19 di dunia pendidikan,” pungkas Agus. [suf]






