Blitar (beritajatim.com) – Kasus penganiayaan yang terjadi di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) Kademangan menyisakan cerita getir sekaligus miris. Setelah kejadian pemukulan, korban mengalami trauma dan tak mau sekolah.
Diketahui korban mengalami luka di hidung. Ia pun harus dirawat di rumah sakit selama 3 hari usai mendapatkan pukulan telak di bagian wajah. Ibu korban pun menyebut bahwa sang anak, kini kondisinya telah membaik namun masih mengalami trauma.
“Kalau anaknya trauma, tidak mau sekolah di sana lagi,” ungkap Istiani, orang tua korban Jumat (10/10/2025).
Di sisi lain pelaku yang merupakan kakak kelas korban juga memilih jalan pintas usai kejadian itu. Pelaku yang berinisial F memilih untuk mengundurkan diri dari SMKN Kademangan.
Pengunduran diri pelaku dari sekolah ini tentu berkaitan erat dengan kasus yang sedang dihadapinya. Pelaku sendiri memang memiliki latar belakang ekonomi menengah kebawah. Selama ini pelaku juga hanya tinggal dengan neneknya usai orang tuanya cerai dan pergi ke luar kota.
“Informasinya begitu (mengundurkan diri),” tegasnya.
Kasus ini memang sudah bergulir di kepolisian. Dari hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Polres Blitar terungkap bahwa pelaku sempat memberikan uang Rp1.400.000 juta kepada keluarga korban.
“Pihak pelaku memberi uang kepada korban sebesar Rp1.400.000,” ungkap Kasubsi PDIM Sihumas Polres Blitar, Ipda Putut Siswahyudi.
Namun usai itu terjadi perselisihan paham antara keluarga pelaku dan korban hingga akhirnya berujung pada pelaporan polisi. Usai pelaporan polisi itu diduga pelaku mengundurkan diri karena merasa takut.
“Selanjutnya orang tua korban berusaha untuk menghubungi orang tua pelaku dan menyampaikan kejadian tersebut akan tetapi orang tua pelaku mengatakan bahwa korban juga melakukan pemukulan kepada pelaku yang sebenarnya itu tidak dilakukan oleh korban sehingga orang tua korban menyimpulkan bahwa orang tua pelaku tidak bertanggung jawab,” ceritanya.
Kini baik korban maupun pelaku justru terancam pendidikannya. Korban terancam tak melanjutkan sekolah karena trauma yang diderita sementara pelaku mengundurkan diri usai dari sekolah usai berhadapan dengan hukum.
Kasus ini pun tentu cukup miris. Apakah benar sudah tidak ada jalan lain untuk mencari solusi atas permasalahan ini hingga akhirnya masa depan kedua siswa itulah yang akan menjadi korban.
Pihak sekolah dan dinas terkait harusnya ambil peran dalam kasus ini. Bukan hanya menyangkut marwah lembaga, akan tetapi ini berkaitan langsung dengan masa depan anak. [owi/beq]






