Lumajang (beritajatim.com) – Pondok Pesantren Asy-Syarifiy 01 di Desa Pandanwangi, Kecamatan Tempeh, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, mengonfirmasi bahwa ada tiga santri yang menjadi korban setelah meminum larutan Hydrochloric Acid (HCL) yang diberikan oleh temannya.
Dewan Pembina Ponpes Asy-Syarifiy 01, Ahmad Syaifuddin Amin, menjelaskan bahwa selain Dewangga Naufal Al Yusen (13), terdapat juga Azril dan Rama yang ikut meminum cairan HCL pemberian temannya itu. Setelah meneguk cairan yang biasa dipakai sebagai bahan pembersih lantai tersebut, Dewangga dan Azril langsung merasakan reaksi muntah-muntah hebat.
Sementara itu, Rama diketahui tidak merasakan dampak apapun karena langsung memuntahkan cairan HCL yang sempat diminumnya.
“Jadi, korban ini yang minum tiga santri, yang satu (Rama) tidak ada reaksi karena langsung dimuntahkan, dua lainnya ini, Dewangga dan Azril muntah-muntah,” terang Amin ketika dikonfirmasi, Kamis (2/10/2025).
Amin menambahkan, setelah diketahui ada tiga santri yang mengonsumsi cairan berbahaya tersebut, pihak pondok langsung mengambil langkah cepat dengan membawa seluruh korban ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.
“Semua tetap langsung kita bawa ke rumah sakit, termasuk yang tidak ada reaksinya juga setelah diobservasi di rumah sakit dan sudah diberi obat,” tambah Amin.
Meski demikian, kondisi Dewangga menjadi yang paling parah di antara ketiga santri tersebut. Pasca-kejadian, ia harus menjalani perawatan serius di sejumlah rumah sakit karena mengalami keluhan medis berupa penyumbatan saluran pencernaan. Hingga tiga bulan setelah peristiwa itu, Dewangga masih membutuhkan penanganan medis intensif dan menjalani perawatan mandiri di rumahnya.
Akibat kondisi tersebut, Dewangga tidak bisa mengonsumsi makanan biasa dan harus bergantung pada susu khusus sebagai pengganti makanan utama sehari-hari. “Untuk korban pertama sudah aman dan kembali ke pondok, untuk Azril sedang pemulihan dan belum kembali ke pondok. Nah korban ketiga ini (Dewangga) yang berat dan membutuhkan penanganan medis yang panjang,” ungkap Amin.
Sementara itu, keluarga dan pihak pondok terus memberikan perhatian khusus pada kondisi Dewangga. Pihak pesantren berharap agar para santri lain lebih waspada serta tidak mengulangi kejadian serupa yang dapat membahayakan kesehatan dan keselamatan. [has/beq]






