Jakarta (beritajatim.com) – Transformasi digital kini menjadi kebutuhan mendesak bagi lembaga penyiaran publik seperti TVRI, RRI, dan LKBN Antara.
Hal ini disampaikan Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR RI, Novita Hardini, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VII DPR RI, Senin (4/12/2024).
Novita politisi yang juga istri H. Mochamad Nur Arifin (Mas Ipin) Ketua DPC PDIP Trenggalek ini mengapresiasi langkah awal yang dilakukan lembaga penyiaran publik, namun ia menekankan masih banyak tantangan yang harus diatasi.
Mulai dari infrastruktur yang belum memadai hingga keterbatasan kualitas sumber daya manusia (SDM).
“Transformasi dari analog ke digital bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. Konsumsi media masyarakat telah bergeser ke platform digital seperti Instagram, X, dan TikTok. TVRI, RRI, dan Antara harus mampu beradaptasi dengan perubahan ini,” ujar Novita, Kamis (5/12/2024).
Pengaruh Besar Era Digital
Novita juga menyoroti besarnya pengaruh influencer dalam menyampaikan informasi di era digital. Ia mengingatkan bahwa lembaga penyiaran publik perlu strategi kreatif agar tetap relevan, khususnya bagi generasi muda.
“Jika media publik dapat melakukan siaran langsung tetapi hanya menarik enam penonton, itu menjadi tantangan besar. Kita harus memikirkan cara untuk menarik perhatian audiens yang lebih luas,” tegasnya.
Infrastruktur dan Kualitas Penyiaran Jadi Sorotan
Menurut data yang disampaikan dalam rapat, kualitas infrastruktur TVRI menurun hingga 90 persen di beberapa area. Novita menganggap hal ini sebagai kendala utama dalam meningkatkan daya tarik lembaga penyiaran publik.
“Kualitas gambar yang buruk tidak akan menarik perhatian masyarakat, terutama jika dibandingkan dengan televisi swasta. Padahal, konten edukasi TVRI memiliki potensi yang besar,” tambahnya.
Ia juga menekankan pentingnya optimalisasi TVRI sebagai penyelenggara program multiflexing sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2021 tentang Pos dan Telekomunikasi.
Prioritas SDM dan Program Edukasi
Salah satu langkah penting yang disarankan Novita adalah memperbaiki internal lembaga, khususnya dalam meningkatkan kualitas SDM.
“Transformasi digital tidak cukup hanya menjadi slogan. SDM yang inovatif dan andal harus menjadi prioritas untuk membawa lembaga penyiaran publik ke tingkat yang lebih tinggi,” ujarnya.
Novita juga mengapresiasi program edukasi TVRI selama pandemi Covid-19, seperti tayangan pembelajaran anak. Ia berharap program-program ini dilanjutkan untuk menyediakan alternatif konten yang mendidik bagi anak-anak.
“Ini adalah salah satu cara untuk mengurangi konsumsi konten media sosial yang tidak sesuai dengan usia anak. TVRI, RRI, dan Antara harus kembali menjadi pilihan utama masyarakat untuk mendapatkan informasi dan edukasi,” harapnya.
Transformasi Digital untuk Masa Depan
Novita optimistis bahwa dengan fokus pada transformasi digital, lembaga penyiaran publik dapat bersaing di era digital dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Mari kita bersama-sama memperkuat lembaga penyiaran publik dari hulu ke hilir. Dengan kerja sama yang baik, TVRI, RRI, dan Antara dapat menjadi pilar informasi dan edukasi yang relevan di masa depan,” tutupnya.
Transformasi digital yang menyeluruh tidak hanya menjadi tuntutan, tetapi juga peluang untuk memperkuat posisi lembaga penyiaran publik di tengah persaingan media digital yang semakin ketat. (ted)






