Politik Pemerintahan

Via Vallen, Cinta Laura dan Pegiat Industri Kreatif Curhat ke Moeldoko

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko berfoto bersama aktris, puteri Indonesia, pegiat industri kreatif, dan pegiat sosial-keagamaan, di kantor KSP, Kamis (10/10/2019).

Jakarta (beritajatim.com) – Sejumlah aktris, pegiat industri kreatif, pegiat sosial-keagamaan, menemui Kepala Staf Kepresiden Moeldoko di kantornya Bina Graha, Jakarta, Kamis (10/10/2019). Dalam pertemuan yang berlangsung kurang lebih dua jam itu mereka curhat tentang aktivitas yang selama ini sudah mereka lakoni. Selain itu, mereka juga memberikan masukan kepada pemerintah tentang pelbagai pengalaman yang sudah pernah mereka rasakan.

Musisi Joshua Matulessy atau yang beken dengan nama JFlow mengatakan, ke depan pemerintah harus mempunyai strategi 4S. Yakni story; superstar, spoke person, dan support. “Kita mau membuat lagu atau apapun kalau enggak ada storynya percuma,” katanya.

Soal superstars ia mencontohkan Brasil. Meski negara itu miskin, namun masyarakat Brasil punya kebanggaan akan bintang-bintang sepakbolanya. Semua anak muda Brasil ingin menjadi pemain bola. “Sementara kita enggak punya,” ujarnya.

Juga soal spoke person. Anak-anak muda yang banyak mendapatkan informasi dari media sosial, menurut dia, tidak cukup memahami akan kondisi negara yang sebenarnya. “Karena spoke person yang menyampaikan kondisi negara ini enggak membuat lebih baik,” katanya.

Aktris Cinta Laura menambahkan Indonesia dengan pluralitasnya harus terus dijaga. Sebab, kata dia, pluralitas itu identitas kita. Ia bercerita pernah melihat tayangan televisi di mana ada seorang yang menggunakan kemben saat upacara adat harus disensor karena dianggap porno. “Ini agak aneh. Padahal itulah kekayaan budaya kita,” katanya.

Karenanya, ia berharap ke depan pemerintah mampu menjaga dan memelihara keragaman budaya yang ada di Indonesia ini. Pentingnya memelihara keragaman ini juga diungkapkan Angsoka YP. Ekonom Bank Indonesia yang peduli masalah pendidikan, mengatakan Indonesia harus bisa bertahan lama. Jalan yang bisa ditempuh adalah dengan dengan memikirkan anak-anak mudanya.

“Pertahanan yang kuat, tidak saja melalui militer namun juga perlu mendorong ank-anak muda produktif,” ujarnya.

Kata dia, ada tiga hal yang dibutuhkan anak muda Indonesia: economic forum, literasi, dan kompetensi.
Moeldoko menyambut baik semua masukan itu. Kepada mereka Moeldoko mengakui bahwa tidak mudah memang mengelola negara sebesar Indonesia yang beragam ini. Karenanya, pemerintah butuh masukan dan batuan dari anak-anak muda yang punya pengaruh ini. “Kita bersinergi membangun negeri ini agar ke depan lebih baik,” katanya. Ia berjanji semua masukan itu akan dirumuskan agar bisa dijadikan dasar untuk membuat kebijakan. [hen/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar