Surabaya (beritajatim.com) – Ketua DPRD Kota Surabaya, Adhi Sutarwiyono berkesempatan ngobrol seru bareng para pelajar SMA/SMK. Adi pun tak mau menyiakan kesempatan ini untuk mengajak kaum muda lebih berani berinisiatif.
Dalam forum santai namun penuh greget yang diinisiasi Aliansi Pelajar Surabaya (APS) itu, Adi menggambarkan bagaimana kondisi pelajar zaman dulu dengan sekarang yang jauh berbeda. Kehadiran internet, kata dia, menjadi momentum yang harus dimanfaatkan pelajar era kekinian untuk semakin mantap membangun diri.
Menurut Adi, internet sejatinya adalah jendela dunia. Segala yang dibutuhkan para pelajar bisa didapat melalui internet.
Jauh berbeda dengan pelajar era 80-an. Untuk meningkatkan khazanah pemikiran, para pelajar era tersebut harus sibuk membaca buku cetakan.
“Maka, yang penting adalah inisiatif dari para pelajar untuk menambah referensi dari berbagai sumber, inisiatif untuk mengasah talenta, meningkatkan kompetensi, dan membuat berbagai kegiatan kreatif,” ujar Adi, ditulis Sabtu (21/1/2023).
Tak hanya itu, dia juga menekankan akan pentingnya keberadaan waktu. Karena itu, dia mengajak para pelajar untuk lebih menghargai waktu yang tidak pernah bisa terulang.
“Kita manfaatkan waktu demi waktu untuk melakukan hal-hal positif, menata masa depan kita,” kata Adi.
Tak lupa, Adi mengajak para pelajar turut serta mengikis kenakalan remaja yang bisa membawa kerugian bagi semua pihak, seperti fenomena gangster. Juga terlibat aktif dalam upaya bersama menguatkan Surabaya sebagai City of Diversity atau Kotanya Keberagaman.
“Memperkuat toleransi, gotong royong, dan kerja sama dalam masyarakat yang multikultural. Ini harus kita perkuat di semua lini,” ucap Adi.
[berita-terkait number=”1″ tag=”dprd-surabaya”]
Forum tersebut juga menjadi sarana para pelajar untuk menyampaikan uneg-uneg seputar permasalahan yang mereka hadapi di dunia pendidikan. Khususnya soal biaya pendidikan dan bantuan sekolah.
Seorang pelajar mengungkapkan soal penyaluran bantuan di sekolahnya yang terkesan tak transparan. Manfaat bantuan itu seharusnya bisa dirasakan namun kenyataannya berbeda jauh.
“Kami tidak tahu bantuan-bantuan itu dipakai untuk apa. Pihak sekolah tidak transparan,” kata pelajar tersebut.
Menanggapi hal itu, Adi menyatakan tidak bisa mengintervensi soal pembiayaan. Sebab, pengelolaan pendidikan tingkat SMA/SMK bukan menjadi kewenangan Kota Surabaya.
Tetapi, dia menegaskan DPRD dan Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, punya komitmen bersama mengalokasikan sebagian dana APBD untuk beasiswa bagi para pelajar SMA/SMK tidak mampu di Surabaya. Masing-masing pelajar mendapatkan Rp200 ribu per bulan untuk meringankan beban biaya sekolah.
“Tahun 2023, diplot beasiswa untuk 25 ribu pelajar,” kata dia. [beq]






