Iklan Banner Sukun
Politik Pemerintahan

Fraksi PSI Sebut Program Rumah Padat Karya Pemkot Surabaya Harus Parsial

Anggota Komisi A DPRD Kota Surabaya dari Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Josiah Michael.

Surabaya (beritajatim.com) – Anggota Komisi A DPRD Kota Surabaya dari Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Josiah Michael menilai program pemberdayaan ekonomi warga melalui ‘Rumah Padat Karya’ Pemkot Surabaya harus parsial.

“Jangan cuma sekedar program saja, tapi program Rumah Padat Karya harus parsial. Artinya, Pemkot Surabaya harus melakukan pemasaran hasil produk warga, bagaimana memanage keuangan, jika itu tidak dilakukan maka saya katakan akan sia-sia program tersebut,” kata Josiah saat dihubungi, Selasa (31/5/2022).

Josiah menyebut Pemkot Surabaya seharusnya serius memanfaatkan program tersebut untuk memberdayakan ekonomi masyarakat. Dia menilai, kelemahan Pemkot Surabaya selama ini mengerjakan segala seuatu secara parsial.

“Aku suka (program) itu, keren! Tapi harus paham dulu, produksi, permodalan dan pemasarannya,” katanya.

Menurut Josiah, dalam program tersebut nantinya warga juga harus dikawal, bagaimana menjaga kualitas hasil produksi dan mengelola keuangannya. Karena bila pengelolaan keuangan buruk maka usaha tersebut rentan mengalami kegagalan.

“Ini yang sangat penting. Ketika kita memang usaha, semua bisa cari duit, bahkan mohon maaf, modal sempritan pun di pinggir jalan bisa dapat duit,” katanya.

Dia meminta Pemkot Surabaya jangan hanya fokus satu titik lagi, yakni parsial. Namun harus paket komplit sampai cara pemasarannya dipandu. Menurutnya, Pemkot Surabaya selama ini dipandang bukan dari karangan wirausaha.

Sehingga, pihaknya berinisiatif membuat sister company, menjadikan perusahaan besar di Surabaya sebagai mentor membidangi pengusaha-pengusaha UMKM baru. “Nantinya, hal itu memang benar-benar dapat menularkan ilmunya, bekerja sama dan menggandeng pihak swasta,” katanya.

Dari sudut pandangnya, cara tersebut sangat ideal. Namun apabila menemui kendala, minimal jangan parsial dulu. Pemkot diminta menyiapkan modalnya secara matang, mengingat BPR sudah ada program Puspita.

“Kalau memang tidak bisa, mungkin lihat bagaimana caranya supaya permodalnya masuk. Setelah itu, membuat produksinya, cara pemasarannya,” katanya.

Soal pemasaran dalam program ini, Pemkot Surabaya yang mencarikan buyer, tetapi Josiah berharap bukan seperti itu, akan tetapi diajarkan cara-cara pemasaran, supaya mereka bisa survive tanpa bergantung kepada pemkot Surabaya.

Strategi pemasaran bisa secara konvensional atau digital marketing. Dikatakan, digital marketing bukan cuma diajarkan market place. Tapi strategi bagaimana produksinya bisa terjual.

“Itu harus diajarkan semua. Kalau memang niat membantu warga Surabaya supaya entas dari kemiskinan,” katanya.

Josiah mengimbau Pemkot Surabaya harus bekerja sama dengan pengusaha. “Itu yang paling utama, solusinya bekerjasama dengan pengusaha, karena pengusaha selain membuka lapangan pekerjaan, kehadiran mereka juga bisa menguntungkan warga sekitar, tularkan ilmunya,” katanya. [asg/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar