Mojokerto (beritajatim.com) – Kasus penemuan jasad dalam karung di parit bawah jembatan rel Kereta Api (KA) Dusun Karangnongko, Desa Mojoranu, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto menyeret dua tersangka. Salah satunya adalah AAW (15) yang merupakan eksekusi pembunuhan AE (15) teman sekelas.
Anak kedua dari tiga bersaudara ini dikenal memiliki pribadi yang aktif, mudah emosional dan usil di lingkungan sekolah di SMPN 1 Kemlagi, Kabupaten Mojokerto. Sosok remaja yang juga aktif di olahraga bola voli ini diungkap Wali Kelas IX Ali Hamdani (28).
“Saya kaget juga, kok bisa seperti ini Pas ujian hari, Selasa (pasca kejadian pembunuhan) itu juga biasa saja. Masuk sekolah dan ikut ujian. Siapa yang bisa naruh curiga. Pas study tour (study tour ke Bali usai ujian sekolah) juga happy aja sama ceweknya yang sama-sama kelas IX tapi beda kelas,” ungkapnya, Jumat (16/6/2023).
Bahkan pada Senin (13/6/2023), tersangka datang ke sekolah untuk mengambil Surat Keterangan Lulus (SKL) sebelum akhirnya diamankan Satreskrim Polresta Mojokerto. Hamdani mengakui, jika tersangka di sekolah cenderung memiliki pribadi random atau perilaku/kelakuan yang nyeleneh (tidak umum).
“Pas Senin sebelum diamankan, AB juga ke sekolah ambil SKL. Biasa saja. Anaknya memang cenderung usil dan emosional, sering terlibat pertengkaran dengan teman sekolah. Seperti, ada temannya dilempar pakai plastik malam kena matanya, sering terlibat perkelahian memang juga,” katanya.
Nakalnya, lanjut Handani, dinilai seperti kayak remaja pada umumnya, berantem sama teman-temannya. Sehingga ia mengaku shock mendengar salah satu siswanya terlibat kasus pembunuhan dan korbannya adalah salah satu siswinya sendiri.
“Urusan dengan BP cukup sering tapi masalahnya ringan-ringan tidak besar. Paling berkelahi dengan temannya, ya seusianya. Iya satu kelas (tersangka dengan korban). Jauh (jarak tempat duduk dengan korban) dan jarang komunikasi dengan korban juga, makanya saya kaget,” tuturnya.
BACA JUGA:
AD Setubuhi Mayat Siswa SMP di Mojokerto
Bahkan orang tua tersangka dipanggil pihak sekolah sebanyak lima kali gara-gara kelakuan tersangka di sekolah. Masih kata Hamdani, tersangka kesehariannya kerap kali membantu usaha orang tuanya berjualan ayam potong. Ia membantu memotong ayam sebelum dijual.
“Kesehariannya membantu orang tuanya menyembelih ayam karena orang tuanya punya usaha penjualan ayam potong. Ini dilakukan sejak SD, dia biasa bangun pukul 02.00 WIB untuk membantu menyembelih ayam. Makanya sering ngantuk saat di menerima pelajaran,” ujarnya.
BACA JUGA:
Bocah SMP di Pasuruan Disetubuhi Kakak sang Kekasih 3 Kali di Tretes
Hal tersebut juga disampaikan Kapolresta Mojokerto, AKBP Wiwit Adisatria saat merilis kasus pembunuhan di Mapolresta Mojokerto pada, Rabu (14/6/2023) kemarin. Tersangka jengkel dan dendam terhadap korban karena dibangunan untuk membayar uang iuran yang nunggak dua bulan sebesar Rp40 ribu.
“Itulah mengapa anak (tersangka AAW) ini sering mengantuk dan tidur di kelas. Informasi dari sekolah maupun orangtua, anak ini terperamental. Kedua tersangka sepakat membegal korban dan tersangka menghabisi nyawa korban dengan cara dicekik karena dendam dibangunkan untuk bayar uang iuran Rp40 ribu,” tegasnya. [tin/but]
![AAW Siswa yang Aktif, Mudah Emosi, dan Suka Usil Wali Kelas Ali Hamdani. [Foto: ist]](https://beritajatim.com/wp-content/uploads/2023/06/IMG-20230616-WA0003_cD2tu0cb8j.jpeg)





